Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Belajar dari Kasus PHK Shopee dan Dibekukannya ACT, Jangan Menggantungkan Pendapatan Hanya dari Satu Sumber


SANIKRADUFATIH - Halo sahabat pembaca semua, semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan baik, serta dikarunia keberlimpahan dari Tuhan.

Beberapa hari yang lalu, gue baca berita terkait masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) salah satu perusahaan multinasional di bidang marketplace, Shopee. Ini perusahaan besar banget loh, tapi entah karena masalah finansial, efesiensi atau apalah namanya, akhirnya mereka harus melakukan keputusan PHK, dan yang paling terkena dampaknya tentu adalah para karyawan yang terkena PHK.

Selain masalah PHK massal oleh Shopee, tentu kita masih ingat kasus skandal penggelapan dan penyelewengan dana donasi yang dilakukan salah satu lembaga filantropi terbesar di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT). Akibat perbuatan oknum para petingginya yang tidak amanah dalam mengelola dana donasi, akhirnya membuat lembaga tersebut terkena masalah, pemerintah pun harus membekukan dan menghentikan izin operasional dari lembaga ACT.

Lalu, apa dampak dari dibekukannya ACT, tentu saja berdampak pada nasib para staff dan pegawai di lembaga tersebut, nasib mereka jadi terombang-ambing, tak menentu, apalagi mereka yang selama ini hanya mengandalkan dan menggantungkan hidup di lembaga ACT.

Di sosial media, bertebaran beberapa cerita dari kesedihan dan nasib para karyawan Shopee yang terdampak PHK, ada yang keluarganya sedang sakit dan dia merupakan tulang punggung keluarga, tapi tiba-tiba mendapatkan kabar PHK, sedangkan, selama ini, ia hanya mengandalkan pendapatan dari bekerja di Shopee.

Begitu pun dengan para pegawai ACT, kondisi mereka lebih sulit, jika dibandingkan dengan mantan karyawan Shopee, mungkin mantan karyawan Shopee masih punya peluang untuk bekerja di tempat lain. Tapi, bagaimana dengan mantan karyawan yang lembaganya memiliki cacat cela atau catatan buruk di mata publik. Tentu, lembaga atau perusahaan lain tak mau mengambil risiko dengan merekrut mantan pegawai dari lembaga yang disinyalir bermasalah, mereka juga tak mau lembaganya disoroti dengan merekrut mantan karyawan dari lembaga yang namanya sudah tercoreng, itu sungguh berat.

Melihat dan belajar dari kasus tersebut, sebaiknya kita harus membangun mindset baru, harus memikirkan ulang terkait finansial, kita harus mulai berpikir untuk bagaimana agar bisa berpenghasilan tanpa bergantung pada satu lubang mata pencaharian atau satu pekerjaan saja. 

Kita tidak pernah tahu akan bagaimana kondisi dan perkembangan perusahaan atau lembaga tempat kita bekerja di masa depan, bisa saja di tengah perjalanan mengalami bangkrut, terkena skandal dan kasus, maupun melakukan PHK terhadap diri kita.

Oleh sebab itu, jangan pernah mengandalkan pendapatan hanya dari satu pekerjaan, kita harus kreatif dan inovatif untuk ikhtiar membuat lubang-lubang rezeki baru.

Masih beruntung kalau misalnya saat di PHK dikasih pesangon yang besar ama perusahaan, se-enggaknya kita masih bisa safety. Tapi, kalau misalnya pesangonnya pas-pasan, terus ditambah ada utang cicilan yang numpuk dan gak punya tabungan sama sekali. Ya nasib, wasalam.

Kalau nasehat dari bapak gue, beliau bilang begini, "carilah rezeki dari berbagai sumber, jangan mengandalkan hanya dari satu sumber atau satu pekerjaan. Sebab, jika satu sumber misalnya macet atau tertutup, kita takkan khawatir, kita masih punya sumber penghasilan yang lain, dan kita tak akan kelimpungan". 

Itu artinya, kita harus membangun mindset yang baru terkait cara berpenghasilan, kita harus kreatif dan inovatif untuk membuka berbagai sumber rezeki bagi diri kita, kita harus sesegera mungkin untuk memulai membangun kemandirian ekonomi.

Selain mencari alternatif sumber penghasilan, kita juga mesti pandai-pandai mengelola keuangan, seperti misalnya menyisihkan uang untuk menabung, yang berfungsi sebagai financial safety jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak terduga, seperti terkena PHK atau pembekuan lembaga.

Gaya hidup pun sangat mempengaruhi kondisi finansial kita, jangan malu dan gengsi untuk terlihat biasa aja, kurangi hal dan kebiasaan buruk yang bisa menggangu kondisi keuangan. Sepertinya misalnya mengurangi hang out berlebihan, tidak membeli barang mewah hanya demi gengsi, yang padahal uang kita sendiri pas-pasan, hindarilah hal yang demikian.

Mulailah berinvestasi leher ke atas, yaitu investasi keilmuan, miliki skill baru, agar diri tidak mandek dan bisa terus berkembang menjadi lebih baik.

Mulai peka terhadap literasi finansial, mulailah untuk banyak membaca terkait literasi finansial, perbanyak ilmu dan pengetahuan dalam mengelola keuangan dan instrumen ekonomi lainnya, agar kita bisa lebih prepare dan bijak dalam mengelola modal finasial yang kita miliki. (@sanik_rdfth)***