Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Memaknai Konsep Rumah Tangga dari Sudut Pandang Filsafat Teologis

SANIKRADUFATIH - Saat artikel ini ditulis, sosial media sedang digemparkan dan dipenuhi fenomena gonjang-ganjing rumah tangga, khusunya rumah tangga para publik figur, selebgram atau tokoh populer lainnya, yaitu maraknya kasus perselingkuhan, pengkhianatan terhadap pasangan dan berbagai isu yang berkaitan dengan "relationship", dan kadang kali kasusnya sangat miris dan membuat hati teriris.

Sehingga dari rentetan kasus tersebut memunculkan fenomema trust issue alias krisis kepercayaan di kalangan publik, yang pada akhirnya membuat setiap orang menjadi terpengaruh untuk curiga, khawatir, cemas bahkan takut terhadap pasangannya sendiri, atau bahkan trauma dan takut saat ingin memulai menjalin relationship yang serius. Karena, mereka khawatir dan takut dikhianati atau mengalami hal menyakitkan seperti yang terjadi di berita dan gossip entertainment.

Tentu saja ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan dan pengkhianatan dalam urusan rumah tangga atau pun suatu hubungan, tapi di antara yang bisa kita pelajari dan gali dari kasus tersebut adalah tentang pemahaman, bagaimana seseorang atau setiap orang memaknai Konsep Rumah Tangga yang dijalani di kehidupan.

Berikut ini, saya akan berbagi sudut pandang terkait konsep rumah tangga dari Sudut pandang Filsafat teologis, harapannya agar terbangun kontruksi berpikir yang mendalam dan bermakna, sehingga memperkuat rasa berkasih sayang dan saling mencintai di dalam rumah tangga.

Rumah tangga terdiri dari dua suku kata, yaitu "rumah" dan "tangga", seperti yang kita ketahui, rumah adalah tempat kita bernaung, berlindung, mendapatkan rasa aman, nyaman, tempat berkumpul, beristirahat, tempat berkeluh kesah, berbagi cerita, tangis, canda dan tawa dan yang paling penting adalah seharusnya rumah bisa menjadi tempat kembali pulang, yang nyaman dan tentram, tempat yang selalu dirindukan, yang penuh kehangatan, cinta dan kasih sayang.

Maka dalam berumah tangga atau saat hendak serius membangun rumah tangga, coba kita tengok dan lihat  sejenak ke dalam diri kita, apakah diri kita sudah bisa dan siap menjadi rumah yang aman dan nyaman atau setidaknya berupaya untuk hal itu, minimalnya kita menjadi rumah yang nyaman bagi diri kita sendiri. Artinya, kita telah selesai dengan urusan diri kita sendiri.

Pada mulanya demikian, minimalnya diri kita bisa menjadi rumah yang nyaman bagi sang jiwa, tapi saat hendak berumah tangga, berarti kita pun harus mulai mempersiapkan rumah tersebut dengan lebih baik (diri dan jiwa kita) agar bisa dihuni oleh pasangan kita kelak. Karena, rumah (diri) kita tak lagi hanya dihuni oleh kita sendiri, tapi mulai hadir seseorang di rumah tersebut, mulai hadir seseorang di kehidupan dan jiwa kita.

Rumah yang dimaksud di sini adalah diri kita, yaitu mental dan jiwa, jangan sampai rumah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan tentram, tempat pulang yang dirindukan justru malah menjadi neraka yang menyedihkan.

Bersihkanlah rumah (diri/jiwa) kita dari segala kotoran sampah kemunafikan, sampah amarah, sampah trauma masa lalu, bersihkan, jaga dan rawat rumah kita dari hal-hal yang bisa mengotorinya. Bersihkan dan terangilah ia dengan cahaya Iman kepada Allah.

Kita harus bisa menjadi rumah yang nyaman bagi satu sama lain, menjadi rumah bagi pasangan kita, yaitu istri menjadi rumah yang nyaman bagi suami dan suami menjadi rumah yang aman bagi istri.

Kita saling belajar menjadi rumah yang siap melindungi pasangan kita dari badai kesedihan, dari hujan penderitaan, dari panas gejolak kehidupan. Pada hakikatnya, menjadi rumah adalah memberi, memberi perlindungan, memberikan rasa aman, menjadi tempat berkeluh kesah, tempat bercerita, berbagi tangis, canda, tawa dan bahagia. Saat memutuskan menjadi rumah, maka kita harus siap menampung itu semua.

Berikutnya adalah tangga, tangga adalah obyek atau alat yang digunakan untuk naik ke tempat yang lebih tinggi, di dalam rumah tangga, maka makna dari tangga ini adalah bahwa di dalam kehidupan rumah tangga akan selalu ada ujian, dan kita harus melalui tangga demi tangga ujian tersebut.

Sampai kita mati, ujian di dalam rumah tangga tidak akan pernah berhenti, ia akan terus hadir untuk menggoncang dan menerpa, tinggal bagaimana penghuni di dalamnya bertahan dan memperkuat rumah tersebut (hubungan rumah tangga) agar kokoh dan tegar melawati berbagai rintangan yang hadir di kehidupan rumah tangga.

Tapi walau demikian, bukan berarti badai akan terus menerus menerjang, akan ada waktu di mana rumah kita (hubungan rumah tangga) berada di kondisi yang  nyaman dan cerah, badai mereda dan gempa berhenti, yaitu saat kita berhasil melewati berbagai ujian dalam rumah tangga.

Akan ada waktu di mana muncul langit cerah di rumah dan kita menanam berbagai bunga (cinta kasih) dan tanaman (kebaikan dan kebermanfaatan hidup) di pekarangan (jiwa) pasangan kita masing-masing, yang akhirnya memunculkan wangi semerbak bunga (kebahagiaan) dan kupu-kupu (kelembutan jiwa) di kehidupan rumah tangga.

Untuk bisa menaiki tempat tinggi berikutnya, maka diperlukan tangga yang kuat dan dibuat bersama pasangan, bagaimana cara membangun tangga yang kuat di rumah tangga? Yaitu membangunnya dari rasa cinta kasih sayang karena Allah, yang dipaku dengan kuat oleh kesetiaan, diikat dengan tali kepercayaan, direkatkan dengan Iman karena taqwa dan takut kepada Allah, dengan demikian akan tercipta tangga yang kuat, yang bisa digunakan untuk menaiki tempat yang lebih tinggi.

Kita bersama pasangan akan berhasil naik ke tempat yang lebih tinggi (Allah mengangkat derajat pasangan suami istri) ketika setia dan sabar dalam ketaatan, yaitu pasangan suami istri yang taat dan bertaqwa kepada Allah, dan tidak mudah digoyah oleh badai yang dihembuskan oleh Setan (godaan rumah tangga), karena mereka telah berpegang teguh pada tali Allah.

Kesimpulannya, setiap diri kita harus menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi pasangan, dan kemudian bersama-sama membangun tangga (hubungan) yang kuat dan kokoh agar bisa naik ke tempat yang lebih tinggi (derajat kehidupan), bagaimana membangun tangga yang kuat? Yaitu menjadikan Ridho dan Taqwa kepada Allah sebagai bahan pondasi atau bahan dasar pembuatannya. (@sanik_rdfth***)