Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Mengapa Resolusi Tahunan Sering Kali Tak Terealisasi bahkan gagal, Masih Perlukah Membuat Resolusi?




SANIKRADUFATIH.MY.ID - Tidak terasa, saat artikel ini ditulis, waktu sudah akan mendekati akhir tahun 2022 menuju awal tahun 2023, dulu biasanya kita sering mendengar istilah resolusi, kalau meminjam istilah dari KBBI, resolusi berarti suatu putusan atau kebulatan pendapat yang berupa permintaan ataupun tuntutan (dalam sebuah rapat ataupun musyawarah). Resolusi juga bisa diartikan sebagai pernyataan tertulis yang berisi tuntutan tentang suatu hal.


Dalam beberapa cuitan atau meme lucu dalam media sosial, istilah “Resolusi” sering kali menjadi bahan lelucon dan candaan. Misal, Ada yang melempar joke seperti ini, “Resolusi tahun ini adalah menjalankan dan merealisasikan resolusi tahun lalu”. Sebenarnya orang sah-sah saja untuk mengomentari segala sesuatu selama hal itu tidak merugikan orang lain dan bukan fitnah.


Tapi, kalau dipikir-pikir, sungguh kasihan si istilah resolusi ini, sekarang konotasi dari istilah resolusi dianggap seperti omong kosong atau bualan.


Hal itu terjadi dikarenakan sering kali resolusi-resolusi yang dibuat malah tidak terealisasi, terlebih ditambah oleh candu hijack atau pembajakan cara kerja otak tengah yang dilakukan oleh para motivator, mereka memberikan sugesti-sugesti manis dan penuh harapan yang sebenarnya bersifat ilusi atau mirip efek opium belaka, kenikmatan sesaat. Suntikan motivasi tersebut justru malah menjadi opium atau obat bius sementara, tapi realitanya, cara-cara yang demikian malah menjadi kontraproduktif.


Sebenarnya tidak ada yang salah dalam motivasi ataupun orang yang menjadi motivator, kita memerlukan motivasi sebagai pendorong untuk menumbuhkan semangat dan harapan. Hanya saja, kerap kali kita terlalu terlena oleh suntikan motivasi dan para motivator kerap lupa untuk membuka ruang diskusi yang saling mengisi agar tercipta solusi bagi para pesertanya.


Maka, pertanyaannya adalah, mengapa resolusi yang telah dibuat sering kali tidak tercapai bahkan gagal dan masih perlukah kita membuat resolusi tahunan?, Kita akan kupas dan bahas bersama.


Sebenarnya, resolusi hanyalah sebuah istilah, ia takkan berarti apa-apa jika tidak dihidupi oleh aktivitas atau perilaku manusia, sama seperti berbagai istilah yang lain. Mereka adalah sesuatu yang sifatnya statis, hanya rangkaian huruf.


Tapi, sering kali kita mendengar istilah evaluasi resolusi, resolusi hanyalah istilah, ia hanya sebuah kata, ia tak bisa melakukan apa-apa, ia tak berdaya. Maka, sebenarnya yang harus dievaluasi itu adalah resolusinya ataukah diri kita sebagai manusia yang menjalankannya?


Tentu saja yang mesti dievaluasi adalah diri kita sebagai pelaksana dari resolusi, bukan resolusi itu sendiri. Walau memang benar bahwa harus ada sebuah sistem dan konsep yang dibangun di dalam resolusi, pertanyaannya, siapa yang mesti membangun konsep dan sistemnya, apakah si resolusi itu sendiri? Tentu tidak mungkin, maka yang mesti membangun konsep dan sistemnya tetaplah manusia, kita sendiri yang harus memperbaiki konsep dan pemahaman kita terhadap resolusi.


berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Prof. Richard Wiseman, hanya 12% yang bisa mempertahankan resolusi tahun barunya sampai akhir tahun. 88% sisanya gugur di tengah jalan. Bukan hanya itu, statistiknya semakin menarik jika menilik riset yang dilakukan oleh John Norcross:


1. 29% melupakan resolusinya di dua minggu pertama;


2. 36% lupa setelah 1 bulan;


3. 54% melupakan resolusinya setelah enam bulan


Sekarang kita akan mengupas dan menjawab mengapa “Resolusi Tahunan” yang dibuat sering kali tidak tercapai bahkan seringnya gagal, berikut ini penjelasannya.


1. Tidak memiliki fokus dan tidak spesifik, terlalu banyak keinginan, padahal resolusi tahunan jangkanya hanya satu tahun, sangat singkat. Kita sepakati jika resolusi tahunan adalah harapan dan rencana jangka pendek. Maka Fokuslah pada satu hal yang ingin dicapai dalam waktu satu tahun tersebut, tidak perlu yang muluk-muluk atau halu, buatlah resolusi kecil sederhana yang sekiranya bisa dicapai namun bisa memiliki dampak, utamanya dampak baik untuk perkembangan diri kita.


Misalnya, tahun depan saya ingin menjadi content kreator, ingin menjadi YouTuber, ingin melanjutkan S2, ingin menerbitkan buku, ingin mendapatkan penghasilan 5 juta per bulan, atau ingin body goals dan glowing, setelah mengetahui mau fokus apa yang ingin dicapai di tahun depan, maka mulailah untuk break down hal apa saja yang kemudian harus dipersiapkan, membuat timeline, dan step-step apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkan resolusi tersebut.


2. Tidak masuk akal dan terlalu halu, mengapa resolusi yang dibuat kerap kali gagal? Hal itu disebabkan karena resolusi yang dibuat biasanya tidak masuk akal atau terlalu halu, sebenarnya sah dan boleh saja jika orang mau membuat capaian tertentu. Hanya saja kita juga harus realistis dan mampu melihat kondisi dan kapasitas diri untuk mewujudkan resolusi tersebut.


Misal ada yang membuat resolusi ingin membangun rumah, punya mobil, lanjut S2 dan berbagai keinginan lainnya dalam jangka waktu satu tahun sekaligus, tapi penghasilan perbulannya saja masih di bawah UMR. Sebenarnya harapan dan keinginan boleh saja, (rezeki siapa yang tahu), tapi saat ini kita bicara kemungkinan yang sifatnya fakta dan rasional.


Jika ingin harapan dan resolusi tersebut bisa kita raih, kita pun sebaiknya belajar untuk melihat kondisi, kapasitas dan kemampuan diri, agar kemudian kita bisa memiliki langkah dan strategi yang tepat serta masih measurable atau masih mungkin untuk bisa kita capai dalam jangka waktu satu tahun.


3. Tidak memiliki timeline yang jelas dan berantakan, tidak ada kesungguhan dalam resolusi yang ditulis dan dibuat, hanya sekedar tulisan kosong dan tak punya alasan kuat untuk mewujudkan resolusi tersebut, hal itulah yang sering kali membuat resolusi tahunan gagal diwujudkan.


Jika ingin resolusi yang dibuat bisa diwujudkan, maka milikilah reason alias alasan yang kuat, motivasi yang mendorong kita untuk mewujudkan hal tersebut.


Misal, ada yang membuat resolusi ingin body goals dan glowing di tahun depan, sebab ia tak mau dihina dan direndahkan dan dianggap sebelah mata lagi, alasan itu sah dan boleh saja dilakukan, yang penting ada motivasi dan alasan yang kuat untuk mewujudkan resolusi yang dibuat.


Atau misal ada yang ingin menjadi konten kreator karena ia ingin terkenal dan mendapatkan penghasilan tambahan, setelah mendapatkan penghasilan tambahan dari konten kreator ia ingin memberikan sumbangan bagi penderita kanker atau mendirikan sekolah gratis dan lain sebagainya. Intinya, ada alasan kuat yang mendorong kita untuk mau melakukan hal tersebut.


Kemudian, kita juga perlu membuat pemetaan rentang waktu capaian dan target yang saling tersambung atau kontinyu.


Misal, membuat resolusi ingin melanjutkan S2 dengan beasiswa atau pun non beasiswa, maka bisa dibuat timelinenya. Contohnya, di tiga bulan pertama mengikuti kursus TOEFL, bulan ke empat bersilaturahmi dan membangun komunikasi dengan senior, dosen atau orang yang berpengalaman dan mengetahui banyak terkait beasiswa dan S2, bulan kelima mempersiapkan berkas dan keperluan, menabung dan mempersiapkan biaya yang mungkin keluar saat proses S2 serta berbagai rencana lainnya yang telah dibreak down ke dalam timeline action target capaian.


Dengan demikian, kita bisa lebih prepare dan siap untuk mewujudkan resolusi, tapi tentu saja akan tetap ada tantangan dan rintangan dalam mewujudkannya.


Tapi, setidaknya jika kita sudah memiliki panduan serta peta pedoman rencana maka diharapkan tidak terlalu jauh tersesat dalam perjalanannya, ketika agak keluar dari jalur atau trek Maps yang dibuat, kita bisa segera kembali.


Namun, sekali lagi, karena kehidupan tak bisa kita tebak dan selalu dinamis, kita tidak boleh terjebak dalam kekakuan aturan. Kita harus tetap fleksibel dan dinamis, berbagai strategi dan rencana bisa saja dan boleh berubah, tidak mesti harus selalu seperti apa yang sudah direncanakan, bisa disesuaikan dengan medan rintangan dan tantangan yang dihadapi, yang penting kita sudah tahu tujuannya mau kemana.


Semisal jika kita menghadapi tantangan untuk melewati samudra maka kita memerlukan bahtera untuk mengarunginya, jika yang ditemui adalah sungai maka menggunakan perahu atau sampan untuk melewatinya. Bukannya malah sebaliknya, saat menghadapi gelombang samudra laut kita malah memakai sampan, itu artinya sama saja dengan bunuh diri, maka segala strategi dan rencana yang telah dibuat maka boleh diubah, diganti dan disesuaikan dengan kondisi tantangan yang dihadapi.


Sekarang, pertanyaannya, masih perlukah membuat resolusi tahunan?, Sebagai makhluk yang berakal budi, tentu kita harus belajar dari banyak pengalaman dan kegagalan yang dilalui. Ubah cara pandang dan konsep kita terhadap resolusi, kemudian perbaiki diri kita dan perbaiki konsep dan sistem yang dibangun dalam resolusi yang ingin dicapai. Semoga artikel ini bermanfaat sebagai refleksi akhir tahun ya teman-teman.


Untuk temen-temen yang ingin mendukung dan support agar aku terus produktif menulis dan berkarya, boleh dukung aku melalui program "donasi teman baik," caranya, temen-temen bisa DM saja  IG @sanik_rdfth bahwa temen-temen ingin support, nanti akan aku balas di DM, sebelumnya, Terima kasih banyak dan semoga sehat selalu untuk temen-temen semuanya :) ***