Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Filosofi Telur Mentah dan Telur Matang


SANIKRADUFATIH - Secara penampilan fisik antara telur mentah dan matang memang agak sulit dibedakan, kadang kita keliru dan tidak tahu yang mana telur mentah dan mana telur matang yang sudah direbus dan didinginkan.

Secara fisik dan tampilan luar, semuanya memang terlihat sama, sehingga kita sulit untuk membedakannya.

Namun, ada satu perbedaan yang amat signifikan dan jelas, yang bisa menjadi pembeda besar antara telur mentah dan telur matang, yaitu saat mereka dibenturkan atau terbentur atau terbanting.

Baca juga : Rahasiakan Hidupmu

Telur mentah akan hancur berantakan karena isinya sangat ringkih dan banyak ruang kosong, sehingga saat terbanting atau membentur sesuatu, ia akan mudah hancur berantakan.

Sedangkan, telur matang yang sudah direbus dan didinginkan, ia juga memang mengalami retak, tapi tidak hancur berantakan dan hancurnya tak separah telur mentah. Bahkan cenderung kecil kerusakannya.

Begitu pun dengan apa yang ada di dalam diri kita, yaitu jiwa kita. Pertumbuhan ruhani, mental spiritual, kematangan jiwa dan kedewasaan berpikir memang tidak bisa terlihat dari luar, sebab, dengan yang awam pun penampilannya akan terlihat sama saja.


Tapi, kita akan tahu ia yang (jiwa dan ruhaninya) sudah matang atau belum adalah saat ia dibenturkan dan dihadapkan pada masalah.

Yang jiwanya masih belum matang atau mentah, ketika dihadapkan kepada sesuatu yang tidak menyenangkan atau pahit, ia akan cenderung kekanak-kanakan, menyalahkan ini dan itu, emosinya tidak stabil, grasa-grusu, gegeran bahkan cenderung sering marah dan memaki-maki.

Sedangkan, untuk mereka yang jiwanya telah matang dan dewasa, bukan berarti mereka tidak pernah marah, mereka pun sama saja bisa merasakan sakit dan luka, mereka juga bisa merasakan marah, hanya saja cara mereka mengekspresikan atau menunjukkan kemarahannya dengan cara yang bisa dikatakan elegan, tidak kekanak-kanakan, dan menghadapi segala permasalahan yang dilalui dengan pikiran yang jernih, hati yang tenang dan jiwa yang penuh kesabaran.

Baca juga : Life is Gambling

Bertumbuh ke dalam memang tidak bisa dilihat oleh mata awam, karena ia bukanlah pertumbuhan yang sifatnya fisik atau wujud jasadiyah. Ia hanya bisa dirasakan dalam perwujudan sifat dan tingkah laku, yang bisa dilihat ketika seseorang tersebut di hadapkan pada satu peristiwa atau momen tertentu yang menguji kematangan dirinya.

Dan, selayaknya telur yang matang, ketika seseorang ingin menguatkan apa yang ada di dalam dirinya, tentu ia harus belajar untuk memahami, menerima, memaknai dan bertahan dalam segala ujian pahit serta berproses di dalamnya. Karena, telur matang pun demikian, ia harus melalui proses perebusan di suhu air yang sangat tinggi, sampai kemudian ia bersabar dalam proses pendinginan, menunggu perlahan sampai suhu panas turun, sampai pada akhirnya ia menjadi telur matang yang padat dan berisi, serta bisa dinikmati isinya, yang bermanfaat, sehat dan layak dikonsumsi.

Manusia yang sedang atau telah berproses untuk mematangkan diri dan jiwanya, bertumbuh ke dalam untuk menguatkan ruhani dan kesadaran spiritualitasnya, akan lebih tenang dalam menghadapi segala absurditas kehidupan.

Jadi, ada di mana kah posisi kita, telur mentah atau telur matang?

**Artikel ringan ini adalah series tulisan yang ditulis oleh Sanik Radu Fatih (@sanik_rdfth) dengan tujuan untuk berbagi kebahagiaan dan menjadikan kualitas hidup yang dijalani agar lebih baik setiap harinya.

Bagi para pembaca budiman semua yang ingin mendukung dan mengapresiasi terhadap tulisan yang diterbitkan oleh @sanik_rdfth, untuk sekedar membeli segelas kopi dan agar bisa terus rajin menulis, maka bisa berdonasi dan berbagi uang kopinya dengan cara bergabung terlebih dahulu ke grup ini ya