SANIKRADUFATIH - Semua orang tentu punya mimpi dan harapannya masing-masing, ada yang ingin menjadi kaya raya, ingin terkenal, menjadi pengusaha, artis, pejabat, dan lain sebagainya.
Sebagaimana orang-orang pada umumnya, saya juga punya sebuah cita-cita dan harapan, yaitu ingin menjalani hidup yang utuh dan penuh. Hidup yang penuh kesadaran, hidup yang bisa menikmati setiap momen waktu dan keberlimpahan hidup, yang bisa dengan khidmat menyaksikan lukisan indah Tuhan di kehidupan alam raya.
Saya tidak ingin menjalani kehidupan yang temporer, yang berlalu cepat dan menukar segalanya demi uang. Saya tidak ingin menjalani kehidupan yang menukar waktu, kebahagiaan dan nilai hidup hanya untuk uang. Tapi, mau bagaimana lagi, di era kapitalis dan sistem ekonomi yang konsumerisme seperti ini, tak mungkin jika kita tak terlibat dalam sistem ekonomi maupun menghindari uang. Kita perlu uang untuk (hampir) segalanya.
Baca juga : Filosofi Telur Mentah dan Telur Matang
Di dalam sistem ekonomi kapitalis, uang menjadi objek vital bagi manusia yang ingin hidup di dalamnya, tak ada uang sama artinya dengan mati atau menjual harga diri dan menjatuhkan martabat. Karena, di sistem ekonomi kapitalis tersebut, penggerak utamanya adalah sistem ekonomi dan keuangan.
Oleh sebab itu, sambil terus berusaha dan berupaya, saya terus memikirkan serta mencari jalan untuk bagaimana caranya agar uang tersebut bekerja untukku, bukan aku yang bekerja untuk uang, karena tak mungkin kita terus bekerja dan mencari uang sampai tua bangka dan mati.
Tak perlu kaya raya, yang penting cukup untuk menjalani kehidupan yang mandiri. Gambaran imajiner kehidupan yang ingin saya jalani adalah, cukup memiliki rumah sederhana yang layak huni, pun jika memerlukan kendaraan, tak perlu yang mahal, yang standar pun sudah cukup, serta memiliki pasif income yang memadai untuk menopang kehidupan pribadi yang mandiri, jauh dari hiruk pikuk dan suara bising ocehan ini itu.
Ingin hidup yang introvert saja lah, bisa berkunjung ke perpustakaan, menikmati teh di pagi hari, berjalan-jalan santai di sore hari dan membaca buku dengan tenang di bawah sinar rembulan di malam hari sambil menyesap pods devil spirit. Dan, untuk menghilangkan jenuh atau kebosanan, saya ingin mengabdi sebagai pengajar mau pun pendidik, tapi itu hanya sebagai bentuk pelayanan saja kepada kehidupan, bukan untuk mencari uang.
Baca juga : Ngobrol Serius ama Kehidupan
Untuk saat ini, kehidupan ideal yang seperti itu memang belum saya dapatkan, tapi saya selalu yakin dan berusaha untuk mencapai titik tersebut, mungkin di antara fase yang harus dilalui adalah finansial freedom alias kemerdekaan finansial, lagi-lagi uang adalah solusinya.
Bahkan, untuk menjalani kehidupan yang utuh dan penuh pun membutuhkan uang, kecuali jika kita hidup di dalam masyarakat adat yang tak terlalu terlibat dengan sistem ekonomi dan keuangan, seperti masyarakat adat Baduy, Ciptagelar dan masyarakat adat lainnya, mungkin keresehan spiritual mental seperti ini tidak akan dialami, atau mungkin dialami tapi kerentanannya sangat kecil sekali.
Saya pernah mencoba tinggal di pelosok pedesaan dalam sebuah program kerja, pada awalnya saya merasa amat menderita dan tidak betah, bisa di katakan jauh dari peradaban manusia perkotaan, semuanya serba terbatas, dan rasanya ingin segera saja keluar.
Tapi, ketika perlahan dijalani, saya seperti menemukan sesuatu yang baru di kehidupan, melakukan aktifitas pergi ke kebun, menanam umbi-umbian, pergi ke sungai mencari ikan, saat sore bermain bersama anak-anak, saat malam menyesap pods sambil ngopi melihat bintang gemintang di bawah redup-terang yang bergantian dari cahaya lampu minyak di beranda rumah.
Dan, yang paling terpenting, saya tidak pernah mendengar ocehan ini itu tentang materi dan uang, saya tak mendengar bisik-bisik tetangga si anu membicarakan si anu, atau gosip ini dan gosip itu, semua hidup bersahaja, tak ada persaingan rumah mewah, kendaraan mewah, atau saling jegal jabatan dan posisi, semuanya bergotong royong dan bekerjasama hampir dalam setiap lini dan sendi kehidupan, kehidupan masyarakat adat tradisional.
Dalam hati, nikmat dan indah sekali kehidupan masyarakat adat tradisional, namun, segalanya terus berjalan, waktu terus berputar, dan masa indah serta menyenangkan tersebut pun harus selesai. Tapi, itu adalah pengalaman dan perjalanan hidup yang sungguh luar biasa, saya bisa menemukan dan menyadari apa sesungguhnya makna dan arti hidup yang sebenarnya, yaitu adalah saat kita bisa menikmati, memaknai dan menyadari setiap momen dan waktu kehidupan yang dijalani.
Dari sekarang, mari kita bijak dalam mengelola keuangan atau finansial kita, agar kemerdekaan finansial bisa lekas tercapai, kita tak perlu lagi menukar kehidupan kita hanya untuk uang, tak perlu lagi menukar nilai hidup, kebahagiaan dan kebermaknaan hidup hanya untuk uang, benda yang hanya merupakan selembar kertas bernominalkan angka yang kemudian kita yakini bahwa kertas tersebut sangat bernilai dan berharga.
Semoga kita bisa hidup dengan utuh dan penuh, yang bisa menyadari, memaknai dan menikmati kehidupan yang dijalani. (@sanik_rdfth)***
