SANIKRADUFATIH - Hi temen-temen gimana kabarnya, semoga kalian dalam keadaan sehat dan baik ya, wah udah lama ya rasanya gak berkabar dan bercerita, maaf yaa, aku baru sempat nulis lagi, ini pun karena emang ada suatu sebab aja sepertinya yang mengharuskan aku menulis.
Entah kenapa malam ini (saat tulisan ini ditulis) rasanya gelisah banget, makanya aku tuangkan deh apa yang aku rasain ke dalam tulisan ini.
Jujur aja, aku gelisah karena aku bakal dapat tugas kerja di luar kota, padahal sih masih satu pulau, cuma nih entah kenapa aku ngerasa ada sesuatu yang tertinggal dan rasanya berat, tapi aku gak tahu hal itu apa.
Kalau ditanya apakah berkaitan dengan keluarga? Menurut ku sih enggak, kalo keluarga sih udah jelas, kalau untuk hal itu aku bisa video call dan terus berkabar buat keluarga. Tapi, ini adalah sesuatu perasaan yang lain, yang aku sendiri aneh untuk jelasinnya.
Padahal, kalau dipikir, emangnya apa sih yang aku tinggalkan, siapa seseorang yang aku tinggalkan, atau sebenarnya apa sesuatu "itu" yang kupikirkan.
Saat aku mencoba berdiskusi dan bertanya pada mentorku, katanya ada momen yang sifatnya batin, yang mungkin pernah terjadi di suatu kondisi atau keadaan yang aku alami, tapi aku gak menyadarinya.
Tapi, entahlah, aku memang bisa dikatakan lebih mengandalkan rasionalitas dan mengutamakan logika, aku kurang percaya untuk sesuatu yang sifatnya metafisik, seperti soulmate atau pertalian jiwa, atau sesuatu yang sifatnya batin spiritual atau apalah yang semacam dengan hal itu, menurutku itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin sebuah jiwa bisa saling tertaut atau ada momen batin dan lain sebagainya. Tapi, setelah aku banyak mendengarkan penjelasan dari mentorku, terkait momen batin dan pertalian jiwa, ia memberikan contoh ketika tiba-tiba saja Ibuku merasakan gelisah dan cemas, kemudian ia merasakan firasat dan ada sesuatu hal yang terjadi padaku, maka Ibu langsung menghubungiku, bahkan kadang tiba-tiba langsung menemuiku, dan faktanya memang benar.
Pada waktu itu, saat aku masih zaman kuliah, aku pernah sakit parah dan aku sengaja tidak memberitahu Ibuku, tapi tiba-tiba saja ibu datang menjengukku (walau Ibu datang dengan sedikit kesal dan emosi, karena aku tidak mengabarinya).
Kemudian aku bertanya, "Ibu tahu dari mana kalau aku lagi sakit?", Ibu pun hanya bilang kalau perasaannya gelisah dan entah kenapa tiba-tiba pikirannya tertuju padaku.
Setelah mendengarkan penjelasan dari kasus tersebut, akhirnya aku berpikir bahwa apa yang dikatakan mentorku mungkin ada benarnya, di dunia ini memang ada sesuatu hal yang kita tak bisa menjangkaunya dengan akal, tapi hanya bisa dijangkau dengan perasaan, dengan jiwa, dengan rasa murni dari batin kita.
Tapi, apa dan siapa, momen apa dan di mana, bagaimana dan hal seperti apa yang aku alami itu?, sehingga aku merasakan perasaan yang begitu aneh dan gelisah. Untuk sementara ini aku biarkan saja perasaan itu, biarkan segala sesuatu menemukan jalannya.
Aku pikir, hal itu memang wajar terjadi di saat kita mulai menjadi dewasa. Jujur saja, tahun ini adalah tahun yang paling memberikan banyak kejutan dalam hidupku, mulai dari naik dan turunnya kehidupan, sungguh rasanya seperti roaller coaster.
Semakin dewasa, maka cirle pun semakin kecil dan bahkan nyaris nol cirle. Dulu, aku sempat pernah merasakan punya cirle, punya teman untuk bisa berbagi cerita dan kumpul-kumpul, dan aku merasa punya teman baru, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Sebab, tuntutan pekerjaan dan kehidupan mengharuskanku untuk pindah tugas wilayah, yah padahal baru saja aku merasa punya teman, walau pun mereka kebanyakan usianya di bawah usiaku. Begitu pun dengan teman-teman komunitas yang pernah aku ikuti, baru saja aku menemukan cirle baru, tapi begitulah hidup, segala sesuatu akan datang dan pergi.
Dan, saat semakin dewasa, urusan Cinta juga bisa dikatakan semakin rumit, karena banyak pertimbangan dan hal yang harus dipikirkan dengan matang, tidak sekedar jatuh cinta kemudian selesai.
Cinta bukan hanya untuk sekedar mengisi waktu luang dan senang-senang atau jalan-jalan, tapi, menurutku semakin kita dewasa, kita menginginkan perasaan untuk saling membutuhkan satu sama lain, saling mendukung dan saling bertukar pikiran, saling mengerti dan belajar untuk saling memahami.
Hahah untuk masalah yang satu ini, tahun ini adalah tahun yang paling tidak beruntung untukku dalam urusan cinta. Aku termasuk orang yang harus melewati waktu yang lama untuk benar-benar bisa merasakan jika aku jatuh cinta. Intinya, aku membutuhkan waktu yang lama untuk memvalidasi bahwa perasaan yang kurasakan adalah jatuh cinta.
Oh aku ingat, entah ini benar atau hanya prasangkaku saja, sepertinya sempat aku merasakan sesuatu yang mungkin dikatakan jatuh cinta atau mungkin baru ada interest saja, tapi sialnya, orang itu sudah dicintai orang lain.
Itulah ketidak beruntunganku, selain masih berusaha menerima kenyataan masa lalu, yaitu perasaan untuk menerima kenyataan bahwa orang yang aku cintai di masa lalu telah tiada, tapi di saat hendak mencoba untuk perlahan membuka hati lagi, sialnya orang tersebut sudah dicintai atau sudah mencintai orang lain, atau dimiliki orang lain.
Maka sesuai prinsip yang kuyakini, "bunuhlah perasaanmu, sebelum perasaanmu membunuhmu dan sebelum perasaanmu menghancurkan hubungan orang lain", maka, mau tidak mau, bagaimana pun caranya maka sesuatu harus dilakukan agar aku dengan orang tersebut kembali berjarak, dan tidak saling melukai siapapun ke depannya.
Seperti misalnya mengatakan bahwa aku sedang berupaya menjalin relationship dengan seseorang kepada orang yang aku ada interest padanya.
Misalnya begini, "Eh do'ain ya, aku lagi mau bangun relationship ama si A, do'ain ya biar lancar", padahal sebenarnya interest ku ada padanya.
Walau sebenarnya rasanya agak sedikit menyakitkan, karena aku harus membohongi perasaanku. Tapi, itu adalah lebih baik dari pada nanti aku menghancurkan perasaan orang lain. Aku tidak ingin menyakiti perasaannya atau pun perasaan orang yang sedang dekat dan mencintainya.
Aku tidak ingin hukum karma kembali kepadaku, maka kubiarkan saja waktu yang mengatur semua itu, entah apakah waktu akan menghapusnya, menyimpannya, mempertemukan kembali atau apapun itu, aku serahkan saja semuanya pada sang waktu dan takdir. Asalkan jangan sampai aku menyakiti hati siapapun.
Sekarang, apapun yang terjadi, pahit, manis, jatuh, bangun, tangis dan tawa atau apapun yang akan kehidupan berikan kepadaku, maka aku akan menerimanya dengan senang hati dan aku syukuri semua dan apapun itu.
Hanya satu "penyakit" yang paling menyedihkan saat kita menjadi dewasa, yaitu kesepian.
Oh iya, ini siapa pula atau moment batin apa yang membuatku merasakan perasaan yang aneh, ah entahlah, setidaknya dengan menuliskan ini, perasaanku jadi lebih lega. Terima kasih sudah menyimak tulisan ini, see you ;)
