SANIKRADUFATIH.MY.ID - Sebelum jauh membahas 3 latihan atau cara yang digunakan agar membentuk karakter dan keperibadian yang penuh dengan sifat tenang, ada baiknya jika kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tenang.
Tenang artinya tidak bergejolak, stabil, ajeg, teduh, damai, mantap, teguh, kuat tak tergoyahkan tapi tetap lembut, jernih, hening, lapang pikiran. Dari banyak lema di atas, bisa disimpulkan jika tenang adalah kondisi di mana diri tidak mudah terpengaruh, senantiasa stabil dan ajeg.
Kebalikan atau lawan kata dari tenang adalah gelisah, khawatir, cemas, waswas, takut, gundah dan galau.
Untuk mendapatkan ketenangan, maka ada beberapa upaya yang bisa dilakukan, di antaranya yaitu meminimalisir atau mengurangi sumber-sumber yang membuat diri tidak tenang, seperti kecemasan, ketakutan, kekhawatiran dan sejenisnya.
Dalam hal ini, kita menggunakan metode neraca keseimbangan, analoginya kurang lebih seperti ini; Semakin besar rasa takut dan khawatir maka akan semakin sedikit ketenangan yang dimiliki, rasa ketenangan tidak muncul dan kalah oleh rasa takut dan gelisah. Begitu pun sebaliknya, jika rasa gelisah semakin kecil, rasa takut semakin kecil, maka ketenangan akan naik dan muncul ke permukaan, rasa ketenangan akan lebih mendominasi.
Baca juga : 5 Kunci Menjalani Hidup yang Tenang dan Berkualitas
Berikut ini adalah 3 kunci latihan yang bisa dipraktikkan untuk membangun karakter diri yang tenang, ada beberapa jenis dan sumber ketenangan :
1. Tenang jasadiyah (fisik) : Mengurangi makan, lebih banyak berpuasa, segala penyakit yang datang ke dalam tubuh, sumber terbesarnya berasal dari makanan. Jika badan kita sakit, jasad kita sakit, apakah diri kita akan tenang? Jika berat badan kita berlebih, apakah kita nyaman? sedikit banyak pasti ada keluhan dan rasa tidak nyaman.
Di antara upaya untuk menjaga ketenangan jasadiyah adalah dengan berpuasa dan mengurangi makanan hewani atau daging-dagingan.
Akan lebih baik lagi jika puasa yang dilakukan bukan hanya sekedar ritual, tapi juga imanen, yaitu puasa yang dipenuhi rasa keyakinan bahwa puasa yg dilakukan adalah untuk pembersihan dan penyucian jiwa, maka saat berpuasa hindarilah perilaku dan hal-hal yang bisa menimbulkan dosa atau keburukan. Dan sebaiknya tidak hanya saat berpuasa, saat tidak berpuasa pun kita biasakan untuk senantiasa berlaku baik dan menghindari perilaku buruk.
2. Ketenangan Hati : Menghindari atau tidak melakukan perbuatan dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Secara alamiah dan naluriah, Tuhan telah menanamkan rasa cinta kasih dan kebaikan ke dalam dada manusia. Secara alamiah dan naluriah, jika manusia tersebut tidak bermasalah secara kejiwaan, maka ia tidak akan menyukai hal ataupun perbuatan buruk.
Secara naluriah, tidak ada orang yang mau hidup dan tinggal dengan penjahat atau tinggal bersama orang jahat atau toxic yang berperilaku buruk, yang sering menyiksa, melukai, menghinakan dan merendahkan, tidak akan ada yang mau tinggal dengan orang yang memiliki perilaku yang buruk, kepada para pembully saja kadang kita merasa jengkel dan kesal.
Hal itu menunjukkan bahwa kencenderungan hati manusia adalah menyukai kebaikan, menyukai cinta kasih dan kedamaian. Maka untuk melatih agar tumbuh ketenangan di dalam hati, maka kurangi perbuatan buruk atau hal yang bisa mengotori hati. Kita memang tak bisa terlepas dari perbuatan dosa, tapi setidaknya kita lebih mudah untuk sadar dan memohon ampunan jika dosa tersebut berkaitan dengan Tuhan, dan meminta maaf kepada sesama manusia jika perbuatan yang kita lakukan telah menyakiti hatinya.
Berikut ini adalah 3 kunci latihan yang bisa dipraktikkan untuk membangun karakter diri yang tenang, ada beberapa jenis dan sumber ketenangan :
1. Tenang jasadiyah (fisik) : Mengurangi makan, lebih banyak berpuasa, segala penyakit yang datang ke dalam tubuh, sumber terbesarnya berasal dari makanan. Jika badan kita sakit, jasad kita sakit, apakah diri kita akan tenang? Jika berat badan kita berlebih, apakah kita nyaman? sedikit banyak pasti ada keluhan dan rasa tidak nyaman.
Di antara upaya untuk menjaga ketenangan jasadiyah adalah dengan berpuasa dan mengurangi makanan hewani atau daging-dagingan.
Akan lebih baik lagi jika puasa yang dilakukan bukan hanya sekedar ritual, tapi juga imanen, yaitu puasa yang dipenuhi rasa keyakinan bahwa puasa yg dilakukan adalah untuk pembersihan dan penyucian jiwa, maka saat berpuasa hindarilah perilaku dan hal-hal yang bisa menimbulkan dosa atau keburukan. Dan sebaiknya tidak hanya saat berpuasa, saat tidak berpuasa pun kita biasakan untuk senantiasa berlaku baik dan menghindari perilaku buruk.
2. Ketenangan Hati : Menghindari atau tidak melakukan perbuatan dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Secara alamiah dan naluriah, Tuhan telah menanamkan rasa cinta kasih dan kebaikan ke dalam dada manusia. Secara alamiah dan naluriah, jika manusia tersebut tidak bermasalah secara kejiwaan, maka ia tidak akan menyukai hal ataupun perbuatan buruk.
Secara naluriah, tidak ada orang yang mau hidup dan tinggal dengan penjahat atau tinggal bersama orang jahat atau toxic yang berperilaku buruk, yang sering menyiksa, melukai, menghinakan dan merendahkan, tidak akan ada yang mau tinggal dengan orang yang memiliki perilaku yang buruk, kepada para pembully saja kadang kita merasa jengkel dan kesal.
Hal itu menunjukkan bahwa kencenderungan hati manusia adalah menyukai kebaikan, menyukai cinta kasih dan kedamaian. Maka untuk melatih agar tumbuh ketenangan di dalam hati, maka kurangi perbuatan buruk atau hal yang bisa mengotori hati. Kita memang tak bisa terlepas dari perbuatan dosa, tapi setidaknya kita lebih mudah untuk sadar dan memohon ampunan jika dosa tersebut berkaitan dengan Tuhan, dan meminta maaf kepada sesama manusia jika perbuatan yang kita lakukan telah menyakiti hatinya.
Baca juga : Cara Mengetahui Kualitas Hidup yang Dijalani, Penting Diketahui
Hati tidak akan tenang ketika melanggar aturan, melakukan perbuatan buruk, menyakiti dan hal buruk lainnya. Hati akan terus merasa takut, waswas, khawatir, cemas dan lain sebagainya.
Hati tidak akan tenang ketika melanggar aturan, melakukan perbuatan buruk, menyakiti dan hal buruk lainnya. Hati akan terus merasa takut, waswas, khawatir, cemas dan lain sebagainya.
Kurangi perbuatan yang berpotensi menimbulkan dosa dan perbanyak berbuat baik, menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana, menebarkan cinta kasih dengan sabar dan kelembutan hati.
3. Tenang Lisan : Tidak banyak bicara (yang tidak perlu), agar tumbuh karakter tenang dalam diri, maka kurangi banyak bicara yang tidak bermanfaat dan belajar untuk lebih banyak mendengarkan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
”Seseorang bisa mati karena tersandung lidahnya,
Tapi, seseorang tidak langsung mati hanya karena tersandung kakinya,
Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya
Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath, 10:446).
Intinya, jika ucapan atau obrolan atau perkataan yang kita lontarkan berpotensi kepada keburukan, lebih baik kita diam dan tidak meneruskannya.
3. Tenang Lisan : Tidak banyak bicara (yang tidak perlu), agar tumbuh karakter tenang dalam diri, maka kurangi banyak bicara yang tidak bermanfaat dan belajar untuk lebih banyak mendengarkan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
”Seseorang bisa mati karena tersandung lidahnya,
Tapi, seseorang tidak langsung mati hanya karena tersandung kakinya,
Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya
Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath, 10:446).
Intinya, jika ucapan atau obrolan atau perkataan yang kita lontarkan berpotensi kepada keburukan, lebih baik kita diam dan tidak meneruskannya.
Baca juga : Miliki 4 Skill Ini dan Optimalkan, Maka Lihatlah Perubahan Hebat dan Dahsyat dalam Hidupmu
Seperti misalnya menghindari gosip, gibah apalagi fitnah, lebih memperhatikan lisan kita agar tidak menyakiti dan menyinggung orang lain.
Jika ingin tumbuh karakter yang tenang di dalam diri, maka kurangilah banyak bicara jika pembicaraan kita masih lebih didominasi oleh hal yang buruk dan menyakiti orang lain maka lebih baik diam. Untuk hal ini, terkait lisan, di era sekarang bukan hanya lisan dimaknai secara apa yang dibicarakan oleh mulut, tapi juga mencakup apa yang kita typing di grup WA atau sosmed.
Jika berbicara, maka berbicara tentang hal-hal yang bermanfaat dan mengurangi pembicaraan yang tidak perlu dan menghindari pembicaraan yang buruk, seperti misalnya menghindari membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Sebab, diri kita pun memiliki kekurangan dan tentu saja kita juga berpotensi memiliki keburukan di dalam diri, hanya saja masih Tuhan tutupi.
Seperti misalnya menghindari gosip, gibah apalagi fitnah, lebih memperhatikan lisan kita agar tidak menyakiti dan menyinggung orang lain.
Jika ingin tumbuh karakter yang tenang di dalam diri, maka kurangilah banyak bicara jika pembicaraan kita masih lebih didominasi oleh hal yang buruk dan menyakiti orang lain maka lebih baik diam. Untuk hal ini, terkait lisan, di era sekarang bukan hanya lisan dimaknai secara apa yang dibicarakan oleh mulut, tapi juga mencakup apa yang kita typing di grup WA atau sosmed.
Jika berbicara, maka berbicara tentang hal-hal yang bermanfaat dan mengurangi pembicaraan yang tidak perlu dan menghindari pembicaraan yang buruk, seperti misalnya menghindari membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Sebab, diri kita pun memiliki kekurangan dan tentu saja kita juga berpotensi memiliki keburukan di dalam diri, hanya saja masih Tuhan tutupi.
***
Agar temen-temen hebat semua bisa mendapatkan artikel dan tulisan menarik dan asyik, dan mau dukung aku untuk terus produktif menulis dan berkarya, boleh dukung melalui program "donasi teman baik," caranya, temen-temen bisa DM saja IG @sanik_rdfth bahwa temen-temen ingin support, nanti akan aku balas di DM.
Bagi teman-teman hebat semua yang ingin dapat konten dan kelas eksklusif, ingin punya circle positif untuk self improvement, self development, design thinking, logic framework dan ingin terus belajar, bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik di setiap harinya, bisa bergabung di komunitas Grow Up Circle, dengan senang hati kami tunggu teman hebat untuk bergabung.
Dan, kalau lembaga atau komunitas teman-teman mau ngadain coaching, pelatihan manajemen pengembangan diri, self improvement, growth mindset, public speaking, copy writing, digital writing dan blogging, bisa DM aku juga ya. Kasih tahu kabar baik ini ke semua sahabat kamu ya. Salam hangat untuk kalian orang-orang hebat dan baik.
Terima kasih banyak dan semoga sehat selalu untuk temen-temen semuanya :) ***
