SANIKRADUFATIH.MY.ID - Secara umum, kedewasaan sering dikorelasikan dengan usia, padahal tidak selalu demikian, kedewasaan lebih erat kaitannya dengan kematangan jiwa. Sebab, ada yang usianya dianggap sudah masuk fase dewasa, tapi secara pemikiran dan mental ternyata masih kekanak-kanakan, yang bahkan mungkin anak-anak pun tidak bersikap dan bertingkah demikian (kekanak-kanakan).
Di kala kita masih kecil (sebagian besar dari kita) melihat dan menganggap jika menjadi dewasa itu sepertinya menyenangkan, bisa bebas mau ke manapun, bawa motor, bawa mobil, beli ini itu, bisa jalan-jalan jauh, bebas melakukan apapun, tidak dilarang-larang, punya banyak teman, bisa main ke manapun dan sepertinya bebas merdeka melakukan apapun yang diinginkan.
Betapa imajinasi kita saat kecil melihat kehidupan orang dewasa sepertinya begitu bebas, hebat dan menyenangkan, sehingga kala itu (saat masih kecil) rasa-rasanya ingin segera dewasa agar bisa bebas bermain dan melakukan banyak hal yang kita mau.
Tapi, seiring berjalannya waktu ketika fase dewasa itu hadir dan menyapa hidup kita, ternyata menjadi dewasa itu sepertinya tidak seperti yang kita bayangkan saat kecil, menjadi dewasa begitu rumit, yang dulu kita anggap bebas merdeka ternyata malah jadi banyak pertimbangan, ternyata menjadi dewasa lebih banyak membuat kita terpenjara oleh stigma, labeling dan penilaian sosial lainnya.
Menjadi dewasa ternyata tidak se-bebas saat kita imajinasikan di kala kecil, menjadi dewasa ternyata tak semudah yang dikira, menjadi dewasa ternyata penuh air mata dan mungkin juga insecure dan overthingking.
Dalam beberapa budaya populer dan literatur modern, kita mengenal istilah coming age fase alias fase pra dewasa awal, ada beberapa versi dalam pengertian coming age fase. Pertama, dari definisi secara umur dan yang kedua berdasarkan kondisi perkembangan jiwa.
Coming age fase ini tidak memiliki patokan umur yang pasti, tergantung kondisi sosial, pengalaman, budaya, nilai hidup, keyakinan dan adat istiadat setempat. Kali ini, kita akan membahas coming age dari sudut pandang dan pengalaman yang dialami secara langsung oleh pribadi penulis dengan latar belakang kultur masyarakat urban dan kelas sosial medioker (kelas menengah).
Saya mengidentifikasi diri secara kelas sosial berada di kelas medioker, tidak miskin tapi juga tidak kaya, sederhana saja, tengah-tengah. Saya sangat bersyukur bisa berada di kelas sosial ini, setidaknya dengan berada di kelas sosial (menengah) ini saya masih bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak, bahkan bisa menulis tentang hal ini, yang artinya muncul kesadaran dalam berpikir dan mampu merefleksikan pikiran tersebut.
Bagi pengalaman pribadi penulis, merasakan coming age yaitu saat memasuki usia 20-an awal, di kala masih berkuliah dan bisa dikatakan jauh dari orang tua dan hidup merantau walau tidak jauh-jauh amat, intinya mencoba hidup mandiri.
Kala itu, kondisi finansial keluarga belum sebaik saat ini, jika dalam stratifikasi kelas sosial yang dibuat kemensos mungkin waktu itu masih pra sejahtera 2, hidup pas-pasan karena saya masih kuliah dan orang tua masih banyak mengeluarkan banyak biaya untuk adik-adik dan berbagai pengeluaran lainnya.
Di kondisi yang serba pas-pasan dan mungkin juga didikan orang tua, hal itu membuat saya lebih mawas diri dan sadar kondisi, bahkan merasa lebih prihatin dengan keadaan keluarga, hal tersebut membuat saya mencoba untuk belajar hidup mandiri.
Dengan semangat cita-cita belajar yang tinggi, yang penting kuliah bisa selesai dan bisa belajar dengan baik, dan syukur-syukur kalau bisa berprestasi, maka untuk mengurangi beban keuangan keluarga, Saya selalu mencoba melakukan berbagai upaya yang bisa meringankan beban orang tua, seperti misalnya mengikuti berbagai lomba yang bisa menghasilkan hadiah uang, mencari beasiswa dan melakukan upaya (baik) apapun yang bisa dilakukan.
Jujur saja, saya hanya diberikan uang saku (yang dalam standard pada waktu itu pun mungkin sangat tidak cukup) dan bayaran semester saja, tapi Saya sangat bersyukur karena orang tua masih mensupport, tinggal saya yang harus sadar diri untuk bagaimana bisa meringankan beban pengeluaran. Pengeluaran yang lain seperti tempat tinggal selama kuliah, makan, keperluan ongkos dan ini itu, semuanya selalu saya coba sebisa mungkin diupayakan mandiri jika hal tersebut memang bukan sesuatu yang urgent, dan ketika Ibu saya bertanya apa saya masih punya uang, saya akan selalu bilang "masih ada".
Kondisi yang demikian lah yang mungkin membuat saya lebih cepat mengalami coming age fase, serta memiliki waktu luang saat setelah selesai perkuliahan, utamanya saat di malam hari dan sendirian, di saat kondisi seperti itulah saya memiliki kesempatan untuk merefleksikan diri dan kehidupan, muncul coming age fase, saya mulai bertanya tentang hidup, bertanya tentang diri saya sendiri, bertanya tentang kehidupan yang dijalani, mempertanyakan eksistensi diri, saya mau ke mana, mau seperti apa, mau bagaimana, dan segala bentuk pertanyaan tentang nilai dan makna hidup yang di jalani.
Coming age adalah fase pra dewasa awal, yang di mana kematangan berpikir mulai terbentuk, saat seseorang mulai merefleksikan diri dan kehidupannya, ketika ia mulai berbicara tentang apa harapannya, keinginannya dan mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidup, sampai pada fase ketika orang tersebut mengalami krisis identitas, ia kehilangan makna dirinya, kehilangan kesejatian dirinya atau bahkan tidak mengenal dirinya sendiri karena terlalu banyak dipengaruhi oleh stigma sosial, aturan dan kultur tertentu, sehingga ia tak pernah menjadi dirinya sendiri, selalu berpura-pura menjadi orang lain.
Intinya, rasanya jadi dewasa itu gimana? rasanya nano-nano, ada banyak rasa, ada sedih, senang, tangis, tawa, cinta, beci, marah, dendam, sabar, kelembutan kasih sayang, campur aduk semuanya.
Intinya, jadi dewasa adalah sebuah keniscayaan yang harus kita lewati dan hadapi dengan baik, apa yang mesti terjadi maka terjadi lah, jangan pernah takut menjadi dewasa, bukankah bertumbuh itu baik, meskipun ada pengorbanan dan rasa sakit, seperti halnya saat ulat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.***
