SANIKRADUFATIH - Salam rahayu dan keselamatan untuk kita semua, terima kasih nih temen-temen yang udah mau berkunjung ke blog aku, kali ini aku ada sedikit cerita terkait pengalaman observasi di komunitas masyarakat adat Baduy Jero, jangan berlama-lama kita langsung aja deh ya.
Sabtu, 14-15 Januari 2023, aku dan temen-temen dari tim lembaga lingkungan, yaitu lembaga Non Government Organization (NGo) Yayasan Rehabilitasi Lingkungan dan Alam beserta temen-temen dari komunitas Rehabilitasi mengadakan kegiatan Goes To Baduy, yang bertujuan untuk mempelajari bagaimana kehidupan sosial budaya yang ada di sana, khususnya yang berkaitan dengan sikap hidup mereka terhadap alam tempat mereka tinggal.
Masyarakat Baduy dikenal sebagai masyarakat yang masih lekat dan kuat dalam memegang nilai adat dan budaya leluhur, mereka masih termasuk ke dalam suku Sunda, hidup di pegunungan, tepatnya di kawasan sekitar Gunung Halimun, mereka hidup berdampingan dan selaras dengan alam. Hal itulah yang mendorong kami untuk datang dan mempelajari seperti apa dan bagaimana kehidupan masyarakat adat Baduy, khususnya Baduy Jero.
Oh iya, fyi, Baduy itu terbagi dua, ada Baduy Luar dan Baduy Jero, kalau Baduy luar sudah agak sedikit terbuka terhadap modernitas, mereka lebih fleksibel dan aturannya tidak terlalu ketat, jika Baduy Jero adalah sebaliknya, mereka tetap hidup secara tradisional dan mengandalkan alam sebagai sumber kehidupan.
Sebenernya, bagi aku pribadi, waktu dua hari sangatlah singkat dan tidak cukup, masih banyak hal yang mesti digali dan dipelajari dan itu membutuhkan banyak waktu. Tapi, peraturan adat membatasi bagi tamu yang datang hanya diperbolehkan menginap selama dua malam, jika mau, kita harus keluar dulu, nanti selah sehari atau dua hari, kita masuk lagi ke kawasan Baduy.
Selama observasi di sana, aku menemukan banyak hal yang luar biasa, khususnya tentang bagaimana alam pikiran masyarakat adat Baduy Jero dalam melihat dan menjalani kehidupan.
Mereka hidup sangat sederhana dan bersahaja, hidup sebagaimana adanya, hidup dengan se-alamiah mungkin, hidup dengan murni. Ada satu pepatah dari masyarakat adat Baduy yang melekat di kepala, yang bunyinya kurang lebih seperti ini,
"Lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung"
terjemahan bebasnya kurang lebih seperti ini,
"Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung"
Artinya, hiduplah sebagaimana adanya, hiduplah dengan murni, hidup sebagaimana nyata adanya, ikutilah aturan, tidak menambah-menambahkan dan tidak mengurang-ngurangi, hidup se-alamiah mungkin sebagaimana adanya, tidak dibuat-buat, tidak pura-pura dan tidak mengada-ada.
Mungkin, dari situlah bisa dipahami mengapa masyarakat adat Baduy bisa dikatakan begitu murni dalam berpikir (jika tak enak dikatakan polos), mereka sungguh apa adanya, jujur, saking sederhananya alam pikiran yang terbangun di masyarakat Baduy, mereka hampir tidak pernah ada pikiran negatif atau buruk sangka, tak ada pikiran yang aneh dan macam-macam, yang ruwet seperti kita masyarakat urban. Kehidupan mereka sungguh simple, sederhana, bersahaja dan gak ribet, mereka gak hidup dari validasi atau penilaian orang lain, mereka hidup berdasarkan nilai-nilai baik yang mereka yakini, yaitu nilai ajaran leluhur mereka.
Maka tidak heran, kenapa di sana tak memerlukan polisi atau pun tim keamanan, sekalipun misalnya harta benda kita dibiarkan tergeletak di luar dan pintu rumah tidak dikunci, benda-benda tersebut tidak akan hilang (kecuali jika diambi oleh orang luar atau ada orang luar yang mengaku-ngaku).
Masyarakat Baduy hidup dengan hati yang murni dan tulus, dari filosofi "panjang tak boleh dipotong dan pendek tak boleh disambung" telah menggambarkan bagaimana mereka menjalani kehidupan yang "jujur", utuh, alamiah sebagaimana adanya, natural, asli, tidak mengada-ada atau tidak dibuat-buat.
Berbeda halnya dengan kita masyarakat urban, banyak hal dilakukan penuh kepalsuan, kepura-puraan dan ditutup oleh topeng-topeng sosial lainnya dalam menjalin entah hal apapun itu, mulai dari bisnis, agama, ekonomi bahkan sampai urusan relasi, hampir rata-rata penuh kepalsuan, dibuat-buat dan demi hanya untuk keuntungan pribadi semata atau cari aman. Itu sebabnya kenapa masyarakat urban modern sering kali merasa anxiety, overthingking, teralienasi, burn out society dan gejala penyakit sosial lainnya, hal itu disebabkan karena kita menjalani kehidupan dengan penuh kepalsuan atau banyak menerima kebohongan dan kepura-puraan dan kedustaan di sana-sini.
Ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan, yang masyarakat Baduy bangun memang bukanlah peradaban berupa bangunan fisik atau teknologi, tapi yang mereka bangun adalah adab dan etika hidup.
Sebagai contohnya, di Baduy Jero tidak ada kamar mandi atau pun toilet, mereka menggunakan sungai untuk aktifitas seperti mencuci dan mandi, sekali pun tidak ada penghalang atau penutup untuk mandi di sungai, masyarakat Baduy asli atau Baduy Jero tidak khawatir akan diintip oleh orang lain, bahkan mereka menjamin hal itu. Sebab, jika mereka hendak lewat kemudian terlihat ada seorang perempuan sedang mandi atau pun sebaliknya, maka mereka akan berbalik arah dan menjauh, memutar mencari jalan lain atau pergi menjauh dan menunggu sampai si orang tersebut selesai mandi, barulah mereka akan lewat.
Karena, jika ada warga adat yang kedapatan dengan sengaja mengintip orang yang mandi, maka hukuman adatnya bisa sangat berat atau bahkan kena tulah. Tapi, mereka melakukan hal itu bukan sekedar karena takut dan mematuhi aturan, tapi karena mereka tahu dan sadar betul bahwa hal seperti itu (mengintip orang mandi) adalah hal yang buruk dan bisa menimbulkan dampak yang buruk, bahkan mereka meyakini jika mereka melakukan hal itu maka akan kena sial. Sehingga, para perempuan di sana tidak pernah takut dan khawatir jika hendak beraktivitas apapun, kecuali jika ada orang luar yang datang berkunjung ke wilayah mereka, biasanya mereka akan menarik diri dan lebih berhati-hati.
Tapi, jika ada orang luar yang datang berkunjung dan main ke wilayah Baduy Jero, maka tak perlu khawatir soal rasa aman dan keamanan, sebab kebanyakan masyarakat adat Baduy hidup dengan hati yang jujur, tulus dan murni. Secara kolektif, budaya tersebut telah tertanam sejak kecil. Jangankan kepada manusia, kepada pepohonan, batu, kayu bahkan hewan saja sikap mereka tidak sembarangan, mereka selalu berhati-hati sebelum melakukan ini itu, sebelum mandi, mengambil air, menebang pohon, membangun rumah dan lain sebagainya, mereka selalu paraniti (izin terlebih dahulu dengan penuh etika sopan santun). Tidak sembarangan dalam berbicara dan bertindak, sangat berhati-hati menjaga tingkah laku.
Tapi, sayangnya, di perjalanan, aku menemukan beberapa sampah plastik berceceran di sepanjang jalur, asumsiku, sepertinya itu dibawa oleh pihak luar atau wisatawan ke dalam wilayah suku Baduy. Dan sayangnya, aku juga tak bisa mendokumentasikan kegiatan selama di wilayah Baduy Jero, karena ada aturan adat tak tertulis yang melarang penggunaan alat-alat modern di wilayah Baduy Jero, seperti dilarang memotret dan lain sebagainya.
Itulah cerita yang bisa aku bagikan buat temen-temen semua, semoga bermanfaat yaa :)
