Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Waktu Tak Pernah Terburu-buru



SANIKRADUFATIH - Di zaman teknologi kecepatan informasi digital saat ini, hampir segalanya bisa diakses dan didapatkan dengan mudah, tak ada lagi batas waktu, wilayah bahkan apapun, break boundaries. Dari fenomena tersebut muncul asumsi tentang percepatan waktu, hari ini kita merasa segala sesuatunya berjalan dengan cepat bahkan amat sangat cepat, dari kondisi yang seolah terlihat cepat tersebut, akhirnya kita merasa diburu-buru oleh waktu, merasa dikejar-kejar oleh waktu.

Kita merasa berkejaran dan diburu-buru oleh waktu, ada yang merasa diburu waktu untuk segera menikah, ada yang merasa diburu waktu untuk segera punya anak, diburu-buru untuk segera punya rumah, perkembangan karir, jabatan, pendidikan, kelas sosial dan banyak hal lainnya.

Tapi, jika kita pikirkan kembali, apakah waktu selalu terburu-buru? Jawabannya adalah tidak, waktu tak pernah terburu-buru, tapi kita lah yang tergesa-gesa, mengapa bisa terjadi demikian dan apa dampaknya bagi hidup yang kita jalani?

Dampaknya adalah kita tak pernah bisa benar-benar bersyukur atas nikmat waktu dan merasa hidup amat sumpek, mumet dan padet, selalu terburu-buru, sehingga tak punya waktu untuk merefleksikan sesuatu yang sedang kita tuju. Seperti misalnya, perlu dan haruskah saya berjalan ke arah sana, apakah yang saya tuju adalah baik ke depannya. Kita jadi tak punya waktu untuk merefleksikan tujuan yang akan dan sedang kita tempuh.

Misalnya ada yang diburu-buru waktu dengan alasan umur untuk segera menikah, tapi saat ditanya mengapa dia terburu-buru menikah, kemudian di jawab "karena umur". Sebenarnya, tidak ada yang salah jika dijawab alasan umur, hanya saja tujuannya menjadi dangkal dan kerdil jika hanya karena alasan sudah umur, ia menikah hanya karena tekanan sosial dari batasan umur, bukan karena kesadaran dan bukan karena memiliki tujuan yang mulia untuk menjalin ikatan yang saling menumbuhkan, tapi ia terburu-buru menikah karena tekanan dari luar dirinya, yaitu tekanan karena umur. Tapi kita tidak menyalahkan, setiap pilihan apapun yang dipilih, mungkin itu baik adanya bagi yang memilih pilihan tersebut.

Selain umur, misalnya ada yang terburu-buru ingin segera melanjutkan S2 atau ingin segera punya mobil atau rumah, tapi saat ditanya untuk apa, kadang hanya dijawab seperti ini.

"Biar scale up sosial aja kalau bisa lanjut S2 atau dari pada bingung mending lanjut S2"
"Biar enak aja kalau punya rumah sendiri, bisa bebas mau ngapain aja"
"Punya mobil enak, bisa jalan-jalan ke mana aja"

Jawaban yang dangkal, sebab ia sendiri sebenarnya tidak benar-benar tahu untuk apa ia menginginkan semua itu, hanya karena diburu-buru waktu dan penilaian sosial, membuat kebanyakan orang menjadi tergesa-gesa untuk bisa segera meraih ini dan itu.

Selama kita mengetahui dan menyadari betul hendak ke mana, mau ke arah mana, tahu tujuannya apa, maka kita tak perlu khawatir apalagi takut ketinggalan. Sebab, waktu tak pernah terburu-buru, nanti juga jika sudah waktunya maka kita akan tiba dan sampai di tujuan tersebut, yang penting terus saja berjalan ke arah yang benar, ke arah yang sedang kita tuju tanpa perlu membandingkannya dengan perjalanan waktu milik orang lain.

Buru-buru amat, emang mau ke mana sih?
Ibarat ada orang yang buru-buru naik kereta karena takut ketinggalan, pas dia nanya,
"Ini kereta tujuan mana ya?"
" Ini tujuan Bogor mas"
"oalah, saya kan mau ke Bekasi" hnya karena terburu-buru, dia jdi salah jalur.

Pelajari, terima, nikmati, dan syukuri saja proses perjalanan waktunya, tak perlu ingin dipercepat atau diperlambat atau ditunda, segala sesuatu ada waktunya masing-masing. Waktu tak pernah terburu-buru, tapi kita yang tergesa-gesa.***


*Noted
Untuk layanan konsultasi, coach dan mind therapy, layanan dengar cerita dan self improvement lainnyabisa menghubungi via instagram @sanik_rdfth