SANIKRADUFATIH - Di beberapa kota besar dan lembaga tertentu, kerja remote alias work from anything (WFA) adalah hal yang lumrah dan sudah biasa dilakukan, yaitu sistem satelit. Namun, sistem kerja seperti ini belum banyak dipahami dan diketahui oleh masyarakat awam. Awalnya, Saya sendiri pun merasa shock culture, belum terbiasa dengan cara bekerja seperti ini, merasa aneh dan asing, apakah bisa bekerja dengan cara seperti ini, setelah dicoba ternyata bisa.
Perbedaan antara kerja remote dan konvensional hanya soal tempat saja, yaitu memindahkan pekerjaan dari ruang kantor menjadi bisa bekerja di tempat mana saja selama terkoneksi dengan internet dan perangkat digital.
Kebanyakan masyarakat awam hanya mengetahui jika bekerja itu mesti datang ke kantor atau pabrik atau apalah yang sejenisnya.
Menurut saya, kerja remote adalah salah satu cara yang paling efesien dan efektif dalam memangkas biaya operasional kantor dan tentunya operasional staff. Saya sebagai staff gak perlu menghabiskan biaya ongkos (tapi sekalinya harus ke kantor, lumayan menguras duit hehe, kebetulan lembaga tempat saya bekerja lokasinya di Jakarta Pusat).
Tetapi, konsekuensinya, selama jam kerja kita harus stay terus di depan monitor komputer dan cek e-mail secara berkala, mengikuti town hall, meeting online, cek grup Wa serta workspace digital lainnya, seperti google calendar, spreadsheet, docs dll. Sebenarnya sama saja seperti bekerja biasa pada umumnya, masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Kalau kerja remote maka On jam 8 pagi dan baru boleh off setelah jam 4 sore. Selama waktu jam kerja tersebut, internet harus terus terkoneksi.
Kerja secara remote minim interaksi sosial secara langsung, interaksi lebih seringnya terjadi via dunia maya seperti grup Wa, zoom, meet dan sejenisnya, bahkan, ada beberapa rekan staf yang saya sendiri pun belum pernah bertemu atau tatap muka, beberapa hanya tahu namanya saja. Saya hanya mengenal dan bertemu tatap muka dengan rekan staf di beberapa region terdekat saja, seperti dari region Jawa Barat yang kadang bisa bertatap muka.
Dengan sistem kerja di depan layar monitor berjam-jam, kerap membuat kepala ngubeng, apalagi harus bergelut dengan berbagai data. Orang awam mungkin akan mengatakan "wah kerjanya enak ya bisa di rumah aja, bisa di mana aja, gak harus tiap hari ke office" , bahkan ada yang mengira nganggur atau bahkan dituduh pesugihan dan babi ngepet heheh. Sebab, tiba-tiba beli motor baru, beli ini itu, mereka heran, ini orang kerjanya ngapain, padahal kelihatannya gak ngapa-ngapain, jarang keluar kostan atau rumah.
Kita pergi ke kantor minimal dua minggu sekali atau saat ada meeting penting atau saat diminta atasan barulah kita berangkat ke kantor atau sekalinya ke luar maka kita akan ditugaskan ke luar kota, tergantung posisi pekerjaan. Selama tidak ada keperluan mendesak maka kita bisa mengambil opsi kerja remote. Saya dibebaskan untuk bekerja masuk office atau pun remote.
Kerja remote bagi saya pribadi sangatlah menyenangkan dan hemat biaya, hanya saja minim circle sosial. Sebenarnya jika mau ke office pun boleh saja, office selalu terbuka selama jam kerja, tapi bagi saya lebih enak remote sih, apalagi kalau kondisinya hujan, lebih baik di kostan atau rumah aja.
Hanya saja, yang paling wajib dari kerja remote adalah cek jadwal google Calendar harus teliti dan benar-benar dibaca, dikira meeting online gak tahunya meeting offline dan wajib ke kantor. Wah itu pernah kejadian sekali, untungnya masih ada waktu untuk berangkat ke Jakarta.
Kalau sudah ke kantor pusat, kadang perlu stay beberapa hari di sana, sebab biasanya ada meeting lanjutan atau diskusi program. Menurutku, cukup menyenangkan sih kerja remote.***
