SANIKRADUFATIH - Cara pandang kita terhadap sesuatu akan berdampak pada cara kita bersikap dan menjalani hidup, bahkan bisa membentuk karakter. Begitu pun cara kita memandang uang atau mempersepsikan uang akan mempengaruhi bagaimana sikap kita terhadap uang tersebut di kehidupan.
Pada mulanya, uang berfungsi sebagai "medium" alias perantara sebagai alat tukar untuk saling memenuhi barang kebutuhan atau membayar jasa satu sama lain. Sebelumnya, barang atau jasa bisa didapatkan dengan menggunakan sistem barter, tapi karena sistem barter dirasa memiliki banyak kekurangan dan tidak memiliki standard nilai yang rigid, maka diciptakan uang dengan nilai standard yang disepakati, bahkan sebenarnya nilai mata uang pun semu, kita hanya "dibuat percaya" bahwa angka dan nominal yang tertera di uang itu berharga, hanya itu saja. Sekali pun diganti daun dan dituliskan angka, tapi jika semuanya sepakat bahwa daun tersebut berharga, maka daun pun bisa menjadi alat tukar yang sah seperti uang.
Hal ini pernah terjadi di masa lampau, di perabadan yang lalu, saat itu ada yang menggunakan alat tukar menggunakan kerang, batu, pecahan keramik, kaca berwarna dan porselen, hal itu menunjukan bahwa apapun bendanya, selama disepakati memiliki nilai yang diakui, maka ia bisa menjadi alat tukar layaknya uang. Selain itu, bukti selanjutnya bahwa nilai uang hanyalah kesepakatan kolektif, yaitu kita ketahui bersama bahwa tidak semua mata uang di negara tertentu akan berlaku di setiap wilayah negara yang lain. Jika transaksi global mungkin acuannya menggunakan dollar, tapi tetap saja ketika dollar tersebut ingin digunakan di lingkup domestik untuk transaksi, mereka harus menukar dollar tersebut dengan mata uang yang berlaku di negara masing-masing.
Uang lahir dari sistem ekonomi, dan saat ini kita telah menjadi masyarakat ekonomi, sehingga mau tidak mau, kita tak bisa menghindari uang, kita membutuhkan uang sebagai perantara untuk menyambung hidup. Kecuali jika kita tinggal di hutan atau hidup seperti masyarakat adat yang mengandalkan hasil alam dengan cara berkebun, berburu atau berternak, hal itu tak perlu transaksi ekonomi, tak perlu uang.
Yang perlu kita sadari saat ini adalah bagaimana cara pandang kita terhadap uang, inilah yang akan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan. Ada yang menganggap uang adalah segalanya, ada yang memandang uang sebagai sesuatu yang berharga dan penting, menjadikan uang sebagai tujuan hidup, ada juga yang menganggap uang seolah seperti Tuhan, ia rela berkorban mati-matian hanya demi uang, walaupun harus mengorbankan banyak hal, ia tak peduli, apapun rela dilakukan demi mendapatkan uang, termasuk menggadaikan harga diri bahkan mengkhianati keluarga, naudzubillah.
Hal demikian bisa terjadi jika seseorang sudah menganggap uang sebagai segalanya, menjadikan uang sebagai tujuan dan penentu hidup.
Oleh sebab itu, memiliki cara pandang yang benar terhadap uang, sedikit banyak akan membuat kita lebih sadar terhadap makna dan tujuan uang diciptakan. Sehingga membuat kita lebih bijaksana dalam mencari dan menggunakan uang.
Lalu, harus seperti apa cara pandang kita terhadap uang? Tentu saja dengan mengembalikannya sesuai fungsi awal uang diciptakan, yaitu sebagai alat tukar untuk transaksi ekonomi, kita harus memahami bahwa uang hanya sekedar alat, bukan tujuan.
Uang hanya sekedar alat tukar untuk transaksi, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena masyarakat secara kolektif telah bersepakat menjadikan uang sebagai alat tukar.
Jika kita sudah menyadari dan mengembalikan fungsi uang hanya sebagai alat tukar dan bukan tujuan, maka sikap kita tidak akan berlebihan terhadap uang, mencari uang secukupnya saja, tidak harus ngoyo mengorbankan ini itu atau bahkan menjual harga diri.
Uang hanya sekedar logam, kertas dan bahkan kini hanya bentuk angka digital di layar monitor, yang diakui sebagai alat tukar, yang ketika sobek, terbakar, tercuci luntur, datanya bocor dan terhapus maka uang tersebut sudah tak berharga lagi, tak ada artinya.
Mencari uang secukupnya saja sesuai yang diperlukan untuk sekedar menjalani hidup, tak perlu gila-gilaan apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan, seperti mencuri, korupsi, menipu, jual diri, dan cara haram lainnya, naudzubillah.
Mencari uang itu prinsipnya yang penting Allah ridho, Allah ridho terhadap apa yang kita kerjakan, Allah ridho terhadap pekerjaan yang kita lakukan untuk mencari nafkah dan menyambung kehidupan. Kalau Allah ridho, insyaallah hidup berkah, berapapun uang yang dihasilkan, insyaallah kita akan merasa dicukupkan oleh Allah. Hidup pun tenang, sebab yang dicari bukan seberapa banyak uang yang didapatkan, tapi seberapa berkah uang yang dihasilkan. (@sanik_rdfth)***
