Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Memaknai Tradisi Mudik dari Sudut Pandang Spiritual

SANIKRADUFATIH - Tradisi mudik alias pulang kampung menjelang hari raya keagamaan telah menjadi budaya yang jamak, khususnya di Indonesia, yang lumrahnya adalah mudik lebaran dan mudik natal.

Selama ini kita melihat tradisi mudik hanya dari sudut pandang yang sifatnya fisik materil, yaitu pulangnya orang-orang "manusia perantauan" ke kampung halaman atau tanah kelahiran, menemui sanak saudara dan menautkan kembali ikatan batin yang mungkin merenggang dan sedikit terlupakan karena terpisah jarak yang jauh.

Selain dari sisi fisik materil, tradisi mudik pun bisa kita lihat dari sisi spiritual, yaitu kembalinya jiwa kita ke "kampung halaman batin" yang damai, bersahaja, sederhana, apa adanya, jernih, tenang dan tentram.

Ternyata bukan hanya fisik kita yang merantau, selama ini jiwa kita juga telah ikut merantau jauh ke  kota besar "angan-angan duniawi", mungkin ada juga yang tak sadar telah terjebak di tengah hiruk pikuk khayali dan diperbudak oleh tuan nafsu duniawi.

Betapa lelah dan letihnya sang jiwa karena terpaksa atau entah dipaksa untuk bekerja diperantauan kota Angan-angan duniawi demi mencari sesuap nasi validasi dan lauk pauk eksistensi atau senyatanya memang harus ada mulut yang dipenuhi dan perut yang diisi.

"Saatnya kembali ke dalam batin yang murni, temui jiwa kita di sana, di lubuk hati sanubari, ia telah lama merana kesepian karena ditinggalkan, mari kita kembali ke dalam diri yang sejati, peluk dengan hangat "jiwa" kita yang sudah lama menanti kepulangan"

Dengan adanya tradisi mudik, diharapkan bukan hanya fisik badaniyah kita yang mudik pulang ke kampung halaman, tapi juga jiwa kita turut kembali pulang ke kampung batin yang penuh kejujuran, kesahajaan, kesederhanaan, kelembutan dan belajar untuk merefleksikan serta merenungkan kembali makna hidup yang sejati.

Saatnya Kembali pulang ke rumah batin yaitu di kampung halaman hati kita yang terdalam, menemui lapis jiwa kita yang lain, yang mungkin sudah lama rindu ingin bertemu, tapi kita sibuk melulu.

Lapis jiwa kita mungkin sudah hampir jemu karena menunggu, mari kita mudik bersama jiwa kita, mengetuk pintu kesadaran batin, mari kita ajak jiwa kita berbincang, kita peluk ia dengan kerinduan yang tulus dan dalam, bahwa mungkin selama ini kita telah lupa dan kehilangan, kehilangan diri kita sendiri, mari kita kembali kepada kedirian yang sejati.

Setelah itu, cobalah sesekali bertanya pada sang Jiwa "Apa yang engkau cari? Hendak kemana engkau pergi, mau kemana dan seperti apa ujung perjalanan hidup yang ingin kita lalui?***


#Instagram (@sanik_rdfth)