SANIKRADUFATIH - Teman-teman, pernah gak sih kita duduk sejenak, kemudian menatap langit malam barang sebentar, sambil merenungkan makna hidup yang kita jalani saat ini. Apakah kalian pernah mengalami deep life moment?.
Temen-temen ngerasa gak sih kalau kebanyakan dari kita mungkin gak sadar kalau hidup yang dijalani seolah sedang balap-balapan, atau lari ngejar sesuatu yang gak ada berhentinya. Atau sadar gak sih sebenarnya kita sedang berjalan ke arah mana, sadar gak sih atas apa yang udah kita lalui selama ini.
Saking gak sadarnya kita, tahu-tahu sekarang udah umur sekian dan sekian, sudah banyak waktu yang dilewati, lebih tepatnya "terlewat" sebab kita tak pernah sadar dengan kehidupan yang dijalani. Karena selalu sibuk berlari mengejar ini dan itu, berlari tiada henti.
Saat ada seseorang yang meneriakinya "Hei bung, terburu-buru sekali berlari, memangnya mau kemana?." Saat mendengar itu barulah ia tersadar dan terhenyak, selama ini ia lari berkejaran ke sana ke mari, tapi saat ditanya mau kemana, ia bingung. "Aku mau kemana ya?."
Ibarat tulisan yang sedang teman-teman baca saat ini, agar bisa terbaca dengan baik, dipahami makna dan artinya maka diperlukan spasi, jika terus menyambung tanpa ada spasi (jeda) maka pembaca akan kehabisan nafas dan sulit memahami tulisan.
Begitu pun dengan kehidupan yang kita jalani saat ini, kita memerlukan jeda sejenak, agar kita bisa lebih sadar terhadap hidup yang dijalani. Lagi pula, kalau terus berlari tanpa henti dan selalu terburu-buru dikhawatirkan nanti tersandung dan jatuh.
Padahal, ada banyak pemandangan indah dan menakjubkan di setiap perjalanan yang kita lewati, tapi karena kita terlalu terburu-buru dan berlari mengejar sesuatu yang mungkin kita sendiri pun tidak tahu, akhirnya membuat kita tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal indah dan menakjubkan terlewat begitu saja.
Kalau saya sendiri, biasanya menjalani filosofi slow living, tidak terlalu nguyu (harus banget) terhadap sesuatu sampe kudu mengejar ini dan itu untuk didapatkan atau diraih. Tapi, bukan berarti fatalis yang gak punya goals dan gak berusaha, saya tetap berprogress dan berupaya untuk mewujudkan apa yang saya cita-citakan dan inginkan, tidak terlalu terburu-buru dan mencoba menikmati setiap proses dan perjalananannya, walau nanti misalnya tidak sampai pada yang dituju, saya tinggal mengubah strategi atau mengganti tujuannya yang lebih relevan dan saya butuhkan, yang penting kita tahu tujuan diri kita mau kemana.
Misalnya, saya cinta banget pada aktivitas ilmu dan belajar, saya punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, yaitu S2, saya ingin dengan ilmu yang diperoleh dan semakin bertambah, semoga dengan half itu bisa memberikan banyak kebermanfaatan dalam hidup.
Tapi ternyata kondisi realitas yang saya alami saat ini penuh tantangan dan rintangan untuk bisa mewujudkannya. Contohnya, saat ada jalur beasiswa ternyata lumayan sulit untuk ditembus oleh diri saya yang mungkin kapasitas otak, modal materi dan kemampuannya yang terbatas dan pas-pasan, tak perlu berkecil hati, masih ada banyak cara yang bisa digunakan, tidak harus selalu beasiswa, saya bisa bekerja dulu, mengumpulkan uang, bekerja sambil kuliah S2 juga bisa.
Eh lagi-lagi, ternyata saya ada banyak keperluan dan kebutuhan juga untuk membantu keluarga, sehingga masih tidak memungkinkan bagi saya untuk kerja sambil kuliah, ya tidak apa-apa. Hidup tetap dijalani sebagaimana harusnya berjalan.
Harapan dan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan S2 itu tetap saya simpan di dalam doa, sambil terus menikmati proses perjalananannya dan berupaya mencari jalan untuk mewujudkannya.
Selama saya masih hidup, saya tidak akan menyerah, entah di umur yang ke berapa, atau apakah saat saya sudah menikah dan berkeluarga baru bisa mewujudkannya, itu tidak masalah, atau bahkan sampai saya wafat ternyata belum bisa mewujudkan itu, ya tidak apa-apa.
Saya bisa berdoa semoga suatu saat nanti anak cucu keturunan saya bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S2 atau ke jenjang yang lebih tinggi. Dan sambil terus menjalani hidup sebagaimana harusnya.
Selama nafas masih di kandung badan, selama badan masih sehat, selama kesempatan itu masih ada, saya akan tetap mencobanya sambil mempersiapkan diri dengan baik.
Tak terlalu dikejar tapi tetap berprogress dan dinikmati setiap prosesnya, kadang perlu sesekali waktu kita istirahat sejenak, menikmati apa yang saat ini ada dan hadir di hidup kita dan melakukan evalusi lagi terhadap perjalanan yang selama ini ditempuh. @sanik_rdfth***
***Silakan diakses dan unduh EBook Spiritual Mindset, semoga mendatangkan manfaat
Link file Ebook
Unduh EBook Spiritual Mindset author by Sanik Radu Fatih
