Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Syarat Utama dan Paling Penting dalam Memilih Pasangan Hidup


SANIKRADUFATIH - Di tengah kondisi dunia saat ini yang digempur berbagai macam fenomena sosial yang "ngeri-ngeri sedap" serta gempuran materialistik, membuat kita harus lebih berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan, di antaranya adalah keputusan untuk memilih pasangan hidup dan menikah.

Memilih dan mencari pasangan hidup bisa dikatakan gampang-gampang susah, sebab, niat dan tujuan menikah dan memilih hidup bersama seseorang, itu harapannya adalah "till Jannah" (Sampai ke surganya Allah) alias tujuannya tidak hanya hidup bersama di dunia, tapi juga berharap dan berusaha dengan upaya amal terbaik agar bisa berkumpul kembali di surganya Allah.

Oleh sebab itu, jangan gegabah dalam memilih pasangan hidup, apalagi untuk dibawa menikah dan membina keluarga, mesti hati-hati, sebab, menikah dan berkeluarga itu jangka waktunya bukan sehari dua hari, tapi seumur hidup, kita akan menjalani proses hidup bersama dengan orang yang kita pilih, dan itu harapannya ingin "till Jannah".

Lalu, apa syarat utama dan paling penting dalam memilih pasangan hidup? Yaitu pilihlah ia yang takut bermaksiat kepada Allah dalam kondisi ramai atau pun sendirian, ia yang iman dalam kelapangan mau pun kesulitan, ia yang taat dan setia terhadap apa yang Allah tentukan sebagai aturan hidup. Itulah syarat yang paling penting dan utama ketika hendak memilih pasangan hidup atau berkeluarga.

Logikanya, jika terhadap Allah saja ia tidak takut bermaksiat, tidak setia dan melanggar terhadap apa yang sudah Allah tetapkan, maka apalagi kepada diri kita yang hanya sekedar makhluk biasa.

Jika Allah saja yang merupakan Tuhannya tidak dipatuhi, tidak ditakuti, tidak disegani dan bermudah diri dalam bermaksiat, maka jangan harap ia (pasangan) tersebut akan setia dan komitmen terhadap amanah hidup berkeluarga.

Kemudian muncul pertanyaan, memilih ia yang takut bermaksiat kepada Allah itu yang seperti apa, yang iman dan setia, taqwa kepada Allah itu yang seperti apa? Itu sesuatu yang abstrak, tak bisa kita lihat.

Secara wujud bentuknya, memang tidak bisa dilihat secara mata fisik, tapi ia bisa dirasakan oleh ruhani batin kita, sebab, Allah akan menautkan hati di antara orang-orang yang beriman,

"Dan (Dia-lah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka (hati orang yang beriman). Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] ayat 63)

Allah yang akan menunjukan hal itu, Allah yang akan memberikan petunjuk dan jalannya, ketika tujuan menikah adalah untuk mencari ridho Allah, tulus karena Allah, maka Allah akan membuka jalannya. Tetapi, jika tujuannya menikah hanya karena dia good looking, status sosialnya tinggi, atau karena faktor lain yang bertujuan bukan mengharap ridho Allah, maka jangan harap pernikahan tersebut akan bertahan lama, karena fondasi hubungan yang dibangunnya pun berawal dari sesuatu yang fana atau terkondisi, yang dasarnya materil semata, yang memiliki keterbatasan, maka ketika hal tersebut (good looking, status sosial atau kedudukan) hilang dari pasangan, maka rasa cinta itu pun bisa pudar bahkan hilang.

Tapi, jika Allah yang dijadikan landasan utama dalam membangun hubungan dan memilih pasangan, hanya mengharap ridhonya Allah, insyaallah cinta tersebut akan kekal dan abadi, akan menumbuhkan ketentraman dan ketenangan batin. Sebab, Allah yang Maha menjaga dan memelihara.

Hal selanjutnya, bisa dilihat dari bagaimana cara ia bersikap dan menanggapi sesuatu di dalam hidup, dari sikap dan perilaku serta cara pandangnya terhadap hidup, untuk mengetahui hal tersebut bisa diikhtiarkan melalui diskusi atau tanya jawab, bertukar pikiran dan berbagi pandangan terhadap beberapa persoalan yang ingin dibahas, misalnya mendiskusikan tujuan pernikahan, bagaimana dan seperti apa pandangannya terhadap suatu permasalahan dan lain sebagainya, hal ini bisa dilakukan saat sedang proses ta'aruf (perkenalan) untuk mengetahui bagaimana pola pikir dan cara pandangnya.

Minimalnya, kita mengetahui pola pikir atau frame yang terbentuk di dalam alam pikiran pasangan kita, yang di mana hal tersebut pun akan memiliki berpengaruh terhadap sikap dan perilakunya.

Cari dan pilihlah ia yang takut bermaksiat kepada Allah, ia yang mmenjadikan Ridho Allah sebagai tujuan hidupnya, itu sudah lebih dari cukup, hal yang lainnya akan mengikuti, yang paling terpenting adalah pondasinya terlebih dahulu, yaitu iman dan taqwa kepada Allah.

Memilih pasangan dan menikah karena Allah, ingin mendapatkan ridho Allah. Bukan karena gengsi sosial atau penilaian manusia. (@sanik_rdfth)***