Buku yang akan dibahas kali ini adalah salah satu buku yang paling berpengaruh buat aku pribadi belakangan ini, ada banyak hal dan sudut pandang yang berubah setelah membaca buku ini, khususnya yang berkaitan dengan bahasa.
Ternyata bahasa memiliki pengaruh yang begitu luar biasa dalam kehidupan, ada banyak hal akan menjadi terhambat ketika bahasa tidak bisa saling dipahami. Bukan hanya terhambat, bahkan bisa menimbulkan perpecahan dan perang hanya sebab kekeliruan bahasa.
Buku terjemahan asal Korea berjudul The Power of Language karya duet antara Shin Do Hyun dengan Yoon Na Ru menjelaskan hal tersebut, yaitu kekuatan bahasa. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Haru, dan memiliki ketebalan sebanyak 200 halaman.
Pertama kali baca buku ini saat ada tugas presentasi program di tempat kerja, waktu itu emang lagi sering banyak ketemu klien. Aku perlu insight baru terkait tata cara berbahasa dan komunikasi, setelah baca buku ini, aku benar-benar mendapatkan cara pandang yang sama sekali berbeda. Mungkin karena banyak diambil dari perkataan para filsuf yang bijak, buku ini bisa dibilang helpful banget buat orang-orang yang kerja di bidang marketing dan advertising, bahkan bidang apapun deh, karena memiliki kecakapan berbahasa itu penting.
Kenapa sih harus banget baca buku ini? Kalau menurut pengalaman aku pribadi, selain karena membahas tentang kecakapan berbahasa, buku ini juga menuntun kita untuk lebih berkembang. Buku ini mempertemukan dua hal, yaitu tentang berbahasa dan juga pola pikir atau pengaruh mindset dalam berbahasa.
Di buku ini dibahas bahwa bahasa adalah salah satu hal yang paling canggih dan dahsyat yang dimiliki manusia. Kecakapan berbahasa menjadi salah satu hal yang menjadikan manusia memiliki peradaban besar dan maju. Tanpa keterampilan berbahasa tidak akan tercipta komunikasi, tanpa komunikasi tidak akan terjalin kerjasama.
Selain itu, isi buku ini dibahas bab per bab, yang terbagi menjadi delapan tahapan, yang di mana tiap tahapan miliki step by step-nya yang mesti dilalui dengan baik.
Mungkin, kalau istilah kerennya, buku ini tuh membangun language consiusnes, yaitu menyadari bahasa atau saat kita berbahasa. Dengan menyadari apa yang kita bahasakan dalam ucapan, maka kita akan lebih bijak dan berhati-hati dalam bicara atau membangun komunikasi dengan orang lain.
Buku ini bukan buku tentang how to berbahasa, tapi lebih kepada kumpulan kisah klasik dari para filsuf barat dan timur, yang kemudian dikembangkan lagi oleh dua penulis tersebut menjadi sebuah tulisan ringan yang menjelaskan tentang makna bahasa.
Buku ini lebih ke genre self development walaupun judulnya tentang kekuatan bahasa. Di sini kita akan mendapatkan pandangan tentang bagaimana kekuatan bahasa dan bagaimana bahasa bekerja serta pengaruhnya terhadap kehidupan yang dijalani.
Pernah gak sih kita menyusun kata yang indah atau kalimat yang cantik, tetapi saat kita pikirkan dan baca lagi, ternyata kalimat tersebut tidak memiliki makna?
Kadang kala kita terlalu fokus kepada teknik atau cara pengucapan atau hal yang sifatnya teknis. Sehingga melupakan makna dan tujuan dari pada berbahasa itu sendiri, yaitu kejujuran dan ketulusan.
Buku ini berisi banyak kutipan para tokoh, khususnya filsuf. Serta ilmu humaniora lainnya yang bisa menjadi pendukung untuk menjelaskan bagaimana cara berbahasa yang baik. Bahasa yang jujur dan tulus bisa mengobati luka di hati kita dan orang lain, maka berbahasa yang baik adalah saat kita menyatakannya penuh ketulusan, bukan kepura-puraan, apalagi tipu-tipu.
Sejauh ini, buku ini adalah buku yang paling memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidupku, aku jadi lebih berhati-hati dalam komunikasi, tapi bukan berarti membuat takut berbicara, tapi justru lebih mengarahkan diri agar berbahasa yang berkualitas dan bernas. Intinya, buku ini insightsful banget buat kita yang ingin mulai memperbaiki cara berbahasa, dan penyajiannya pun ringan dan menyenangkan karena dikemas dalam bentuk kisah atau cerita singkat.***
