Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Runtuhnya Jaringan Toko Gunung Agung, Toko Buku Legendaris dan Tanda Tanya Kondisi Dunia Literasi Indonesia

SANIKRADUFATIH - Berita diakses, 10.40 WIB, Jumat 2 Juni 2023. Bagi para pecinta buku dan dunia literasi, siapa yang tidak tahu toko buku Gunung Agung. Rata-rata, para pecinta buku dan mereka yang memiliki minat terhadap dunia literasi, sedikit banyaknya pernah mendengar nama toko Buku Gunung Agung sebagai salah satu toko buku rujukan. Karena memiliki banyak ragam koleksi buku yang dijual.

Namun, siapa sangka jika ternyata pada pertengahan 2023, toko buku legendaris ini harus "tutup usia" alias menutup dan mengakhiri semua lini bisnis bukunya. Hal ini menggemparkan dan menjadi viral di kalangan pecinta buku dan dunia literasi.

Terakhir diketahui jika website resmi tokogunung.com yang biasa digunakan mencari informasi terkait toko buku Gunung Agung pun sudah tak bisa diakses.

Dikutip dari Wikipedia Indonesia, Toko buku Gunung Agung didirkan pada tahun 1953 oleh Tjio Wie TayTay, dan berkantor pusat di Jl. Kwitang No.6, Jakarta-Indonesia.

Hampir 7 dekade toko buku Gunung Agung berdiri, memiliki lebih dari 30 gerai toko buku yang tersebar di kota besar Jawa dan Bali, serta menjadi pelopor bagi bisnis retail perbukuan di Indonesia.

Perjalanan panjang tersebut tentunya menyimpan banyak kenangan dan cerita, terutama bagi mereka para pecinta buku yang memiliki pengalaman terhadap toko buku Gunung Agung.

Dilansir dari Detik Finance, "Pada akhir tahun 2023 ini kami berencana menutup toko/outlet milik kami yang masih tersisa. Keputusan ini harus kami ambil karena kami tidak dapat bertahan dengan tambahan kerugian operasional per bulannya yang semakin besar," kata Manajemen PT GA Tiga Belas dalam keterangan resmi, Minggu (21/5/2023).

Dari pernyataan manajemen PT GA, yaitu perusahaan yang menaungi toko buku Gunung Agung, diketahui jika runtuhnya bisnis jaringan toko buku Gunung Agung disebabkan karena mengalami kerugian dan tak mampu lagi menutupi biaya operasional. Artinya, lebih besar pasak dari pada tiang, pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan. Buku tak laku banyak, sedangkan biaya operasional terus membengkak.

Alasannya karena tak banyak buku yang bisa dijual, hanya sedikit orang yang mau membeli buku. Kemudian muncul pertanyaan, sangat rendah kah minat baca bangsa Indonesia, sampai menyebabkan toko buku bangkrut dan tidak laku.

Tapi, berdasarkan data Perpustakaan Nasional (Perpusnas), tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia sebesar 63,9 poin pada 2022. Skor tersebut meningkat 7,4% dibandingkan setahun sebelumnya yang sebesar 59,52 poin.

Belum dengan lagi meningkatnya pembelian Kindle dan Ebook Reader lainnya serta akses terhadap eBook yang semakin meningkat. Pembelian buku di lokapasar pun terhitung meningkat dan permintaannya sangat tinggi.

Jika alasan kebangkrutan toko buku karena rendahnya minat baca, maka argumen tersebut mudah dipatahkan. Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya akses bacaan berbasis digital melalui EBook dan pembelian buku melalui lokapasar serta membeludaknya para pembeli saat ada bazaar buku.

Bila dilakukan analisis, maka runtuhnya jaringan toko buku Gunung Agung bukan sebatas masalah rendahnya minat baca masyarakat, tapi lebih kepada invasi dan strategi bisnis.

Sekarang adalah era digital dan masa disruption, maka tidak bisa bila toko buku saat ini hanya mengandalkan cara kovensional dalam menjual buku-bukunya melalui toko fisik.

Harus ada strategi dan inovasi yang dilakukan oleh mereka yang berbisnis dalam dunia perbukuan. Agar pembelian terhadap buku bisa meningkat. Dengan modal brand yang dan sumber daya yang dimiliki, sebenarnya toko buku Gunung Agung bisa terus bertahan dan eksis.

Misalnya, toko buku tak hanya sekedar menjual buku, tapi bisa juga menawarkan kelas, seperti kelas menulis. Kemudian mengadakan temu penulis, membuat suasana toko buku menjadi menyenangkan dengan menghadirkan book caffe, membuat event dan kegiatan yang bisa menarik banyak orang untuk datang ke toko. Jadi, tidak hanya berhenti di sebatas toko yang hanya menjual buku, jadilah toko buku yang innovatif dan kreatif. @sanik_rdfth.***